Ia menjelaskan, saat tiba di lokasi, kapal pukat cincin disebut telah lebih dulu beroperasi menggunakan lampu sorot terang dan jaring berukuran besar.
“Ceritanya begini. Saya melaut di titik pertama lalu saya pindah lokasi di tempat kami biasa dapat ikan layang. Dan ternyata mereka sudah duluan parkir di kawasan kami. Jadi kami sangat terganggu dengan kejadian kemarin malam itu,” ujarnya.
Ali mengaku dampak kehadiran kapal pukat cincin mulai dirasakan langsung oleh nelayan tradisional.
Ia menyebut sejumlah pemancing kombong bahkan menangis karena hasil tangkapan menurun drastis.
“Sampai-sampai nelayan mancing kombong menangis menjerit dikarenakan pendapatan mereka tidak seperti biasanya pak,” katanya.
Ia mengatakan kapal-kapal tersebut diduga berasal dari Makassar, sementara pihak yang mendatangkan kapal ke wilayah Labuan Bajo disebut berasal dari Desa Seraya Maranu atau Seraya Besar.
“Juragan kapal sama ABK sama-sama dari Makassar. Hanya yang mendatangkan mereka ke sini itu orang dari Desa Maranu itu,” ujarnya.






Tinggalkan Balasan