LABUANBAJOVOICE.COM — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memperkirakan jumlah penumpang angkutan Lebaran 2026 di Labuan Bajo mencapai 50.705 orang.

Angka ini meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode Lebaran 2025 yang tercatat sebanyak 49.250 penumpang.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andy M. T. Marpaung, menjelaskan proyeksi tersebut berdasarkan data dari Kantor UPBU Kelas II Komodo selama 17 hari masa pemantauan arus mudik dan balik Lebaran.

“Berdasarkan data yang kami peroleh dari Kantor UPBU Kelas II Komodo untuk 17 hari masa pentauan, jumlah penumpang angkutan lebaran pada penerbangan domestik diperkirakan sebanyak 47.189 penumpang atau meningkat sebanyak 3% dari angkutan lebaran 2025,” kata Andy, Rabu (18/3/2026).

“Sementara untuk penerbangan internasional diperkirakan sebanyak 3.516 penumpang atau meningkat sebanyak 2% dari angkutan lebaran 2025,” sambungnya.

Ia menambahkan, total pergerakan penumpang domestik dan internasional tersebut menjadi indikator utama meningkatnya aktivitas pariwisata di Labuan Bajo selama periode libur Idulfitri tahun ini.

“Diperkirakan angkutan lebaran 2026 untuk penerbangan domestic dan internasional sebanyak 50.705 penumpang atau naik sekitar 3% dari angkutan lebaran 2025 yang sebesar 49.250 penumpang,” katanya.

BPOLBF berharap peningkatan jumlah penumpang ini dapat mendorong pergerakan wisatawan ke berbagai destinasi, baik di kawasan Taman Nasional Komodo maupun wilayah daratan (mainland) Labuan Bajo dan sekitarnya.

“Melalui data tersebut target peningkatan kunjungan ke Labuan Bajo selama puncak arus lebaran 2026, tanggal 13 – 29 Maret 2026, kami harapkan dapat mengisi pergerakan dan aktivitas pada destinasi-destinasi wisata yang ada di Labuan Bajo dan sekitarnya,” ujar Andy.

Menurutnya, distribusi kunjungan wisatawan perlu merata agar tidak terjadi penumpukan di satu titik destinasi serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Seiring proyeksi peningkatan penumpang tersebut, BPOLBF telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, termasuk penguatan koordinasi lintas sektor, pengawasan destinasi, serta penyediaan posko terpadu dan layanan informasi wisata.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan kelancaran arus wisatawan sekaligus menjaga standar keamanan, kenyamanan, dan kualitas layanan selama periode Lebaran.**