LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca maritim terbaru untuk wilayah Perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape yang berlaku pada 13–15 Mei 2026.

Dalam laporan tersebut, tinggi gelombang di sejumlah titik perairan wisata dan jalur pelayaran di Manggarai Barat diperkirakan mengalami fluktuasi, bahkan mencapai 1,6 meter di kawasan Taman Nasional Komodo.

Informasi ini menjadi perhatian penting bagi operator kapal wisata, nelayan, kapal penyeberangan, hingga wisatawan yang melakukan aktivitas pelayaran di kawasan super prioritas pariwisata Labuan Bajo.

Berdasarkan data BMKG, kondisi perairan Labuan Bajo relatif lebih tenang dibanding kawasan lainnya. Pada 13 Mei 2026, tinggi gelombang diperkirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 0,7 meter.

Kondisi serupa masih berlangsung pada 14 Mei dengan gelombang sekitar 0,6 hingga 0,7 meter, sementara pada 15 Mei kembali menurun di kisaran 0,5 hingga 0,6 meter.

Meski relatif aman untuk aktivitas pelayaran skala kecil dan wisata harian, BMKG tetap meminta seluruh pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca secara mendadak.

“Gelombang memang masih dalam kategori rendah hingga sedang di Labuan Bajo, tetapi perubahan kecepatan angin dan arus laut dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada siang hingga malam hari,” demikian imbauan BMKG dalam rilis prakiraan cuaca maritim tersebut, Selasa (12/5/2026).

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Perairan Taman Nasional Komodo. Pada 13 Mei, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,9 hingga 1,2 meter. Kondisi serupa masih berlangsung pada 14 Mei, namun pada 15 Mei tinggi gelombang diprediksi meningkat hingga 1,2 sampai 1,6 meter.

Kenaikan gelombang ini dinilai penting diwaspadai mengingat kawasan Taman Nasional Komodo merupakan jalur utama kapal wisata menuju Pulau Padar, Loh Liang, Pink Beach, hingga sejumlah titik diving internasional.

BMKG menegaskan bahwa karakteristik perairan kepulauan di kawasan Komodo memiliki arus yang cukup kuat dan dapat berubah cepat akibat pengaruh pasang surut.

“Para nakhoda dan nelayan dihimbau memperhatikan jadwal pasang surut karena dapat menyebabkan perubahan kecepatan dan arah arus secara mendadak yang berisiko mempengaruhi stabilitas kapal,” tulis BMKG.

Di wilayah Selat Sape Bagian Utara, tinggi gelombang pada 13 Mei diperkirakan berkisar antara 0,6 hingga 1,1 meter. Pada 14 Mei berada pada kisaran 0,5 hingga 1,1 meter, sedangkan 15 Mei diperkirakan sekitar 0,6 hingga 1 meter.

Adapun Selat Sape Bagian Selatan menjadi wilayah dengan potensi gelombang tertinggi kedua setelah kawasan Komodo. Pada 13 Mei, gelombang diperkirakan mencapai 1,3 hingga 1,5 meter.

Kondisi ini berlanjut pada 14 Mei dengan kisaran 1,2 hingga 1,5 meter, kemudian sedikit menurun pada 15 Mei menjadi 1,1 hingga 1,4 meter.

Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian operator kapal kayu tradisional, kapal wisata cepat, hingga nelayan kecil yang melintas di jalur perairan selatan Sape yang dikenal memiliki karakter angin lebih kuat.

Pelaku wisata bahari di Labuan Bajo menyebut informasi prakiraan cuaca maritim kini menjadi kebutuhan utama dalam operasional wisata harian. Tingginya aktivitas live on board dan perjalanan wisata laut membuat faktor keselamatan menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, nelayan tradisional juga diminta tidak memaksakan aktivitas melaut apabila kondisi angin mengalami peningkatan mendadak.

BMKG mengingatkan bahwa hembusan angin kencang atau gust dapat muncul sewaktu-waktu dan memicu perubahan tinggi gelombang dalam waktu singkat.

Pengamat maritim di Labuan Bajo menilai pola cuaca peralihan saat ini membuat kondisi laut lebih dinamis dibanding beberapa pekan sebelumnya.

Karena itu, koordinasi antara operator kapal, otoritas pelabuhan, dan BMKG dinilai penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut.

Prakiraan cuaca maritim terbaru BMKG juga menjadi acuan penting menjelang meningkatnya kunjungan wisata pertengahan tahun di Labuan Bajo.

Aktivitas wisata laut diperkirakan akan terus meningkat seiring masuknya musim liburan dan bertambahnya kapal wisata yang beroperasi di kawasan Taman Nasional Komodo.**