The Nusa Dua juga menjadi salah satu kawasan wisata yang menerapkan sistem pengelolaan air berkelanjutan sejak 1979 melalui teknologi lagoon.

Sistem tersebut mampu mengolah sekitar 10 ribu meter kubik air limbah per hari untuk dimanfaatkan kembali sebagai irigasi kawasan hijau.

Penerapan sistem itu mendukung efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat konsep circular water system di kawasan wisata terpadu tersebut.

Berdasarkan kajian terbaru, total serapan karbon di kawasan The Nusa Dua mencapai 16.279,57 ton karbon. Kawasan itu memiliki rata-rata biomassa sekitar 102,6 ton per hektare dengan kandungan karbon sekitar 48,2 ton karbon per hektare atau setara 176,8 ton CO2e per hektare.

Data tersebut menunjukkan kemampuan vegetasi kawasan dalam menyerap dan menyimpan emisi karbon secara signifikan di tengah tingginya aktivitas industri pariwisata.

Sementara itu, di kawasan The Mandalika, pengembangan pariwisata berkelanjutan dilakukan melalui pengelolaan kawasan seluas 1.175 hektare dengan alokasi RTH mencapai sekitar 363 hektare atau 30 persen dari total area.