Ia menjelaskan, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga integritas produk, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh petani dan nelayan lokal. Dengan demikian, rantai nilai pangan dapat berputar di dalam daerah.

Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah menyiapkan sistem penanda berupa stiker atau cap khusus sebagai jaminan keaslian produk pangan lokal.

“Dalam ketentuan yang berlaku, minimal 60 persen bahan baku harus berasal dari wilayah lokal,” ujar Kadis Fatinci.

Lebih jauh, ia menyebut pelaku usaha yang mampu melampaui standar tersebut akan diberikan apresiasi sebagai bentuk insentif.

“Ini merupakan upaya bersama untuk menjaga integritas sekaligus memperkuat ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kick Off Floratama Academy 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menjadi ruang strategis untuk mengintegrasikan kebijakan daerah dengan program peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Program yang telah memasuki tahun keenam sejak diluncurkan pada 2021 ini berfokus pada penguatan pelaku usaha pangan, mulai dari produksi hingga akses pasar.