LABUANBAJOVOICE.COM — Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andy M. T Marpaung, merespons positif capaian Taman Nasional Komodo yang menempati peringkat kedua sebagai tempat terindah di dunia versi Time Out tahun 2026.
Capaian tersebut dinilai sebagai pengakuan internasional atas kekayaan alam dan daya tarik pariwisata Indonesia, khususnya di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya.
Andy menegaskan bahwa prestasi ini merupakan hasil dari kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian alam sekaligus mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
“Pengakuan ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama. Taman Nasional Komodo bukan hanya milik daerah atau nasional, tetapi juga bagian dari warisan dunia yang harus kita jaga bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, keindahan lanskap alam di kawasan Taman Nasional Komodo yang memadukan savana, perbukitan, dan laut biru, serta keberadaan satwa endemik komodo, menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi destinasi lain di dunia.
Menurutnya, capaian ini juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat promosi pariwisata Labuan Bajo di pasar global, terutama setelah kawasan tersebut masuk dalam daftar destinasi super prioritas nasional.
“Ini momentum penting untuk memperkuat positioning Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia. Namun, pengembangan harus tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan konservasi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan wisata berbasis kualitas, bukan semata kuantitas. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan antara ekosistem dan aktivitas pariwisata.
Plt Direktur Utama BPOLBF itu menyebut bahwa peningkatan jumlah kunjungan harus diiringi dengan penguatan infrastruktur, layanan, serta kesadaran wisatawan terhadap kelestarian lingkungan.
“Kita ingin menghadirkan pariwisata yang berkualitas, di mana wisatawan mendapatkan pengalaman terbaik tanpa merusak alam. Ini yang terus kami dorong bersama para pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap capaian ini dapat memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku usaha pariwisata di Manggarai Barat.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan destinasi, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung.
“Kami berharap masyarakat lokal menjadi bagian utama dari ekosistem pariwisata ini. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi promosi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Di tengah persaingan destinasi wisata dunia, masuknya kawasan Taman Nasional Komodo dalam peringkat kedua dunia dinilai sebagai bukti kuat bahwa Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
BPOLBF berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, dan masyarakat guna menjaga kualitas destinasi serta meningkatkan daya saing internasional.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dan inovasi agar Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo tetap menjadi destinasi unggulan dunia yang berkelanjutan,” tutupnya.**






Tinggalkan Balasan