Salah satu persoalan utama ialah belum meratanya fasilitas ultrasonografi (USG) di seluruh puskesmas di Manggarai Barat.
Akibatnya, banyak ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit atau praktik mandiri dokter untuk memastikan diagnosis medis.
“Dalam pelayanan banyak kendala, baik faktor teknis maupun nonteknis. Terkait ketersediaan sarana pemeriksaan seperti USG, belum semua puskesmas memilikinya sehingga untuk penegakan diagnosis harus dirujuk ke poli RSUD atau praktik mandiri dokter,” ujarnya.
Selain itu, kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan rutin juga masih menjadi tantangan yang memerlukan edukasi berkelanjutan.
Di sisi lain, kondisi sejumlah ambulans yang mengalami kerusakan turut menghambat proses rujukan pasien dari wilayah terpencil menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
“Hal nonteknis lainnya adalah kepatuhan kunjungan ibu hamil untuk pemeriksaan. Rujukan juga masih terkendala banyak ambulans yang ngadat atau rusak sehingga menyulitkan keluarga,” kata Theresia.
Pemerintah daerah berharap penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dapat semakin menekan angka stunting dan mencegah kematian ibu serta bayi di Kabupaten Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan