LABUANBAJOVOICE.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Barat mencatat angka stunting di daerah itu mencapai 11,8 persen atau sebanyak 2.387 balita dari total 20.264 balita hingga Jumat, 3 Juli 2026 pukul 14.03 Wita.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, Theresia P. Asmon, mengatakan data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat intervensi kesehatan ibu dan anak, sekaligus mempertahankan tren penurunan stunting dalam beberapa tahun terakhir.

“Kondisi per hari ini, jam 14.03, jumlah balita sebanyak 20.264 anak. Jumlah balita stunting 2.387 balita atau 11,8 persen,” kata Theresia kepada media, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut dia, upaya penanganan stunting tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bayi, dan balita yang menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.

Seluruh program tersebut, kata dia, masuk dalam indikator kinerja utama pemerintah daerah dan dilaksanakan melalui berbagai klaster pelayanan kesehatan.

“Program pelayanan kesehatan ibu, bayi, balita, pelayanan kesehatan ibu bersalin, semuanya menjadi program SPM sesuai Permenkes. Jadi ada beberapa klaster layanan yang menjadi kewajiban pemerintah daerah,” ujarnya.

Theresia menjelaskan, berbagai aktivitas yang dilakukan meliputi pemeriksaan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita secara rutin, penanganan ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK), hingga pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK dan balita.

Selain itu, kata dia, tim puskesmas juga aktif melakukan kunjungan rumah untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

“Aktivitas pemeriksaan kesehatan ibu hamil, bayi dan balita menjadi keharusan. Penanganan ibu hamil KEK, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK dan balita, juga aktivitas kunjungan rumah dilaksanakan oleh tim puskesmas. Ketersediaan tempat tunggu kelahiran semuanya difasilitasi melalui menu BOK Puskesmas dan Dinas Kesehatan,” katanya.

Dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat juga mengembangkan Sistem Informasi Ibu Hamil Risiko Tinggi (SIMABARESTI).

Program ini menjadi instrumen pemantauan yang melibatkan puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), dan Dinas Kesehatan secara berkala.

Theresia menilai sistem tersebut cukup efektif untuk mengidentifikasi dan mencegah berbagai risiko yang dialami ibu hamil sejak dini.

“SIMABARESTI dimonitor dan dievaluasi setiap minggu bersama tim puskesmas, RSUD, dan Dinas Kesehatan. Sistem ini efektif untuk memantau aktivitas yang sudah dilakukan puskesmas maupun RSUD, termasuk menemukan kasus-kasus berisiko dan melakukan sesi berbagi untuk mencegah terjadinya risiko,” ujarnya.

Ke depan, Dinas Kesehatan berencana melibatkan dokter spesialis agar proses pengawasan dan penanganan ibu hamil berisiko tinggi semakin optimal.

“Kami juga akan melibatkan dokter spesialis ke depannya. Diharapkan raport akhir kematian ibu dan bayi bisa dicegah,” kata Theresia.

Meski berbagai program terus dijalankan, Dinas Kesehatan mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, baik yang bersifat teknis maupun nonteknis.

Salah satu persoalan utama ialah belum meratanya fasilitas ultrasonografi (USG) di seluruh puskesmas di Manggarai Barat.
Akibatnya, banyak ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit atau praktik mandiri dokter untuk memastikan diagnosis medis.

“Dalam pelayanan banyak kendala, baik faktor teknis maupun nonteknis. Terkait ketersediaan sarana pemeriksaan seperti USG, belum semua puskesmas memilikinya sehingga untuk penegakan diagnosis harus dirujuk ke poli RSUD atau praktik mandiri dokter,” ujarnya.

Selain itu, kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan rutin juga masih menjadi tantangan yang memerlukan edukasi berkelanjutan.

Di sisi lain, kondisi sejumlah ambulans yang mengalami kerusakan turut menghambat proses rujukan pasien dari wilayah terpencil menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

“Hal nonteknis lainnya adalah kepatuhan kunjungan ibu hamil untuk pemeriksaan. Rujukan juga masih terkendala banyak ambulans yang ngadat atau rusak sehingga menyulitkan keluarga,” kata Theresia.

Pemerintah daerah berharap penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dapat semakin menekan angka stunting dan mencegah kematian ibu serta bayi di Kabupaten Manggarai Barat.**