LABUANBAJOVOICE.COM – Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) melalui RRI SP Labuan Bajo dan Mawatu bersiap menggelar dialog publik interaktif berskala nasional bertajuk “Sunset Talk” pada Minggu, 29 Maret 2026.
Kegiatan ini mengangkat tema utama “Dari Labuan Bajo untuk Dunia”, dengan fokus pada masa depan pariwisata serta penguatan potensi seni lokal di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dialog yang akan berlangsung di kawasan Mawatu, Labuan Bajo, mulai pukul 16.30 WITA ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif lintas sektor untuk merumuskan arah pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.
Koordinator RRI SP Labuan Bajo, Desy Natalia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi strategis bersama Mawatu sebagai mitra penyelenggara kegiatan.
Ia menilai sinergi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan Indonesia di tingkat global.
“RRI menyambut baik kerjasama bersama Mawatu, dan memberikan terim kasih dan apresiasi kepada Mawatu yang telah bersedia berkolaborasi untuk menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Desy dalam keterangannya, Jumat 27 Maret 2026.
Desy berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan semata, tetapi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan pariwisata Labuan Bajo ke depan.
Sementara itu, Ketua Tim Konten Media Baru RRI Ende, Riswan Sumby menegaskan peran RRI sebagai lembaga penyiaran publik dalam menjembatani aspirasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas hingga pelaku industri kreatif.
“Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI terus berkomitmen membuka ruang dialog lintas sektor. Melalui Sunset Talk ini, kami ingin membahas secara mendalam bagaimana arah pengembangan pariwisata di Labuan Bajo ke depan, sekaligus memperkuat ekosistem seni lokal agar anak-anak muda di sini memiliki wadah yang representatif untuk bertumbuh,” ujar Riswan.
Ia juga mengungkapkan bahwa dialog ini akan disiarkan secara luas melalui berbagai platform digital milik RRI, guna menjangkau audiens nasional bahkan internasional.
“Kami akan menyiarkan kegiatan ini melalui seluruh platform media sosial milik RRI, mulai dari YouTube, Instagram, TikTok, hingga Facebook, agar pesan dan diskusi inspiratif ini dapat diakses oleh masyarakat luas,” ungkap Riswan.
Dari pihak mitra, Marketing Manager Mawatu Labuan Bajo, Nazwar Zulfajri, menjelaskan bahwa kerja sama dengan RRI didasari pada kredibilitas dan peran aktif lembaga tersebut dalam mendukung pengembangan pariwisata dan industri kreatif di Labuan Bajo.
“Kami memilih bekerja sama dengan RRI karena selain merupakan media nasional yang sangat kredibel, RRI juga sangat aktif bergerak di Labuan Bajo, terutama dalam isu pengembangan pariwisata dan industri kreatif,” ujar Nazwar.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi mampu menghasilkan gagasan konkret yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kami berharap Sunset Talks tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan pemikiran yang tajam dan arah yang lebih konkret bagi pengembangan pariwisata, seni lokal, dan industri kreatif di Labuan Bajo,” katanya.
Lebih lanjut, Nazwar menilai kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam forum ini menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan visi serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Kami mengundang masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya untuk hadir di Mawatu dan mengikuti Sunset Talks pada 29 Maret 2026,” ucapnya mengajak.
Ia juga menekankan pentingnya partisipasi publik dalam memberikan perspektif serta masukan guna mendorong kemajuan pariwisata dan industri kreatif di daerah tersebut.
“Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam memberikan perspektif dan masukan guna mendorong kemajuan pariwisata dan industri kreatif di Labuan Bajo,” katanya.
Dialog publik ini direncanakan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, baik pemerintah maupun pelaku industri kreatif.
Melalui forum ini, RRI SP Labuan Bajo berharap dapat memperkuat ekosistem dialog yang produktif, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan dan langkah nyata dalam membangun pariwisata Labuan Bajo yang berdaya saing global tanpa meninggalkan identitas lokal.**






Tinggalkan Balasan