“Pak, mengapa sih kalau orang sudah kecanduan game online, hubungan sosialnya dengan keluarga atau teman-teman di dunia nyata jadi terganggu bahkan rusak?” tanya Lastri.
Aiptu Teguh langsung memberikan penjelasan yang humanis. “Ketika fokus dunia seorang anak berpindah sepenuhnya ke dunia virtual, kepekaan sosialnya akan tumpul. Empati dan kemampuan berkomunikasi tatap muka dengan orang tua maupun teman di sekitarnya perlahan memudar karena proses isolasi diri tersebut,” jawabnya ramah.
Pertanyaan senada diajukan oleh Genis, yang mempertanyakan fungsi awal game sebagai media hiburan.
“Tapi Pak, bukankah game online itu diciptakan untuk hiburan? Mengapa justru bisa membawa dampak negatif yang sangat besar bagi kami?” tuturnya.
Merespons pertanyaan tersebut, Aiptu Teguh menekankan aspek kendali diri.
“Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak baik, Genis. Game didesain secara psikologis dengan sistem penghargaan (rewards) yang terus-menerus memicu hormon dopamin di otak kita agar merasa senang dan ketagihan. Jika kita tidak memiliki disiplin diri yang kuat untuk membatasi waktu, fungsi hiburan tersebut secara perlahan akan bergeser menjadi kecanduan kompulsif yang merusak produktivitas harian,” jelas Aiptu Teguh.





Tinggalkan Balasan