LABUANBAJOVOICE.COM – Umat Islam di Desa Golo Mori, Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, merayakan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi dengan cara berbeda namun tetap penuh semangat kebersamaan.

Di kawasan yang juga menjadi bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Golo Mori ini, pawai takbiran dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.

Tradisi ini menjadi pilihan masyarakat setempat mengingat kondisi geografis wilayah Golo Mori yang didominasi jalan menanjak, berbukit, serta berkelok-kelok.

Dengan menggunakan kendaraan, masyarakat tetap dapat mengikuti takbiran secara aman, tertib, dan meriah tanpa mengurangi kekhidmatan malam kemenangan.

Ratusan kendaraan turut ambil bagian dalam pawai tersebut. Sekitar 10 mobil dilengkapi dengan fasilitas pengeras suara (sound system), sementara ratusan sepeda motor mengikuti di belakangnya.

Deru mesin kendaraan berpadu dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema sepanjang perjalanan.

Rute pawai dimulai dari Kampung Soknar di sekitar Masjid At-Taqwa, kemudian bergerak menuju lapangan Kantor Desa Golo Mori, dan berakhir di Masjid Tao Uswatun Hasanah.

Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyambut rombongan pawai dengan suasana penuh kegembiraan dan kekeluargaan.

Salah seorang warga muslim setempat, Rahmat, mengatakan pawai takbiran menggunakan kendaraan sudah menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat Golo Mori.

“Pawai takbiran ini bukan sekadar perayaan, tapi juga wujud rasa syukur kami setelah sebulan penuh berpuasa. Kondisi jalan di wilayah kami memang menantang, sehingga penggunaan kendaraan menjadi pilihan yang tepat agar semua warga bisa ikut berpartisipasi,” ujar Rahmat kepada media, Jumat malam (20/2/3/2026).

Rahmat menambahkan, suasana takbiran tahun ini terasa lebih hidup karena partisipasi masyarakat yang semakin meningkat. Ia berharap tradisi ini dapat terus dipertahankan dan bahkan lebih ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.

“Ini kegiatan yang sangat meriah dan penuh makna. Kami berharap ke depan semakin banyak warga yang terlibat, sehingga semangat kebersamaan dan persaudaraan umat Islam di Golo Mori semakin kuat,” tambahnya dengan penuh harap.

Selain sebagai bentuk syiar Islam, pawai takbiran di Golo Mori juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat di wilayah yang berkembang, khususnya di kawasan KEK, tetap menjaga nilai-nilai religius dan budaya lokal.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia telah menetapkan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar di Jakarta.

Penetapan tersebut menjadi penanda bagi umat Islam di seluruh Indonesia untuk merayakan Idulfitri secara serentak dengan penuh suka cita.

Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur, pawai takbiran di Desa Golo Mori menjadi bukti nyata bahwa tradisi keagamaan dapat terus hidup dan beradaptasi dengan kondisi wilayah, tanpa kehilangan makna spiritual yang mendalam.**