Ia mengungkapkan, Kabupaten Manggarai menjadi salah satu kantong calon pekerja migran di wilayah kerja Imigrasi Labuan Bajo, dengan dominasi tenaga kerja laki-laki yang memilih bekerja ke luar negeri.

Fenomena tingginya keberangkatan non-prosedural, menurut Charles, dipicu oleh banyaknya jalur keluar yang sulit terpantau. Calon pekerja migran kerap menyamarkan identitas dan membaur dengan penumpang umum untuk menghindari pemeriksaan petugas.

“Selain itu, sebagian dari mereka mengetahui terlebih dahulu wilayah perbatasan seperti Entikong dan Kalimantan sebelum melanjutkan perjalanan ke luar negeri,” ungkapnya.

Negara tujuan utama PMI asal NTT masih didominasi oleh Malaysia, dengan persentase lebih dari 90 persen.

Di sisi lain, proses keberangkatan resmi yang dinilai cukup panjang juga menjadi alasan sebagian masyarakat memilih jalur non-prosedural.

Sebagai langkah pencegahan, Imigrasi telah melakukan verifikasi data melalui pengecekan nomor identitas calon pekerja migran. Namun, praktik penyamaran identitas masih menjadi tantangan yang membutuhkan penguatan kolaborasi lintas instansi.