Menurutnya, konsep food forest menjadi jembatan yang menghubungkan pengembangan destinasi wisata dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui konsep food forest, kita menghubungkan pengembangan destinasi dengan ketahanan pangan, sehingga pelestarian lingkungan, pemanfaatan pangan lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara beriringan. Inilah wujud pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.” jelasnya.
Andhy menambahkan, BPOLBF terus mendorong Parapuar menjadi model penerapan Ethno-Eco-Edu Tourism, di mana kawasan tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai konservasi, keanekaragaman hayati, pengembangan pangan lokal, serta pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Parapuar diharapkan mampu menjadi contoh pembangunan destinasi yang menyeimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat.





Tinggalkan Balasan