“Ke depan Labuan Bajo juga bisa dipopulerkan dan potensi pangan lokal ini didorong, termasuk untuk kesejahteraan masyarakat dari food forest,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekayaan hayati hutan di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Seperti moringa atau kelor di NTT kualitasnya sangat baik. Tinggal bagaimana produksi dan hilirisasinya diperkuat agar memberikan nilai tambah yang lebih besar.” jelasnya.
Menurutnya, hilirisasi produk pangan lokal menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, sehingga sumber daya alam daerah dapat memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, menegaskan bahwa pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas harus mampu mengintegrasikan sektor pariwisata dengan ketahanan pangan.
“Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembangunan pariwisata tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Andy.





Tinggalkan Balasan