Konsep tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela, jalur peziarahan Katolik yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun di Spanyol dan diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Jalur tersebut dinilai berhasil menggabungkan nilai spiritual dengan pelestarian budaya, penguatan identitas masyarakat, pemerataan ekonomi, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Potensi Pulau Flores dinilai sangat kuat untuk mengembangkan wisata religi berskala internasional. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri tahun 2025, sekitar 3 juta umat Katolik berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dari jumlah itu, sekitar 2 juta jiwa tinggal di Pulau Flores atau sekitar 22,6 persen dari total umat Katolik di Indonesia.
Selain jumlah umat yang besar, Flores juga memiliki sejarah panjang penyebaran agama Katolik yang meninggalkan banyak warisan spiritual dan budaya.
Berbagai gereja tua, gua Maria, seminari, biara, tradisi liturgi yang masih terpelihara, hingga panorama alam yang khas menjadi daya tarik yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman ziarah yang autentik.





Tinggalkan Balasan