LABUANBAJOVOICE.COM — Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, memanfaatkan kunjungannya ke Maumere untuk mempererat hubungan dengan diaspora Manggarai Raya sekaligus memperkuat pelestarian budaya di tanah rantau.

Kunjungan tersebut bertepatan dengan agenda menghadiri pengukuhan guru besar Otto Gusti Ndegong Madung di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.

Di sela kegiatan itu, Endi menyempatkan diri bertemu Keluarga Besar Manggarai Raya (Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur) di Kabupaten Sikka.

Kedatangan rombongan disambut dengan prosesi adat Tuak Reis dan Manuk Kapu—ritual khas Manggarai sebagai simbol penghormatan dan penerimaan keluarga.

Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, mencerminkan kuatnya ikatan sosial masyarakat Manggarai di perantauan.

Dalam pertemuan tersebut, Endi menyerahkan bantuan seperangkat alat kesenian tradisional kepada Ikatan Keluarga Besar Manggarai Raya Sikka.

Penyerahan berlangsung di sekretariat organisasi tersebut pada Jumat, 17 April 2026, dan diterima perwakilan dari tiga kabupaten di Manggarai Raya.

Bantuan itu meliputi gong, gendang, serta perlengkapan permainan Caci seperti larik (cambuk), nggiling (perisai), dan agang (penangkis). Peralatan ini menjadi elemen penting dalam tradisi Caci yang sarat nilai keberanian, sportivitas, dan kehormatan.

Dalam keterangannya, Endi menegaskan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjaga identitas budaya masyarakat Manggarai di luar wilayah asal.

“Keberadaan peralatan kesenian ini tentu merupakan salah satu bentuk dukungan kepada keluarga besar dari 3 Manggarai yang ada di Kabupaten Sikka dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk terus menjadi penjaga identitas budaya Manggarai di tanah rantau,” kata Endi, Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat, tetapi juga pemerintah sebagai bagian dari pembangunan berbasis kearifan lokal.

“Kehadiran alat kesenian ini tentu juga agar kesenian daerah tetap lestari, hidup dan berkembang di Kabupaten Sikka,” ujarnya.

Penyerahan alat kesenian ini memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai simbol dukungan budaya, tetapi juga sebagai upaya memperkuat jaringan sosial diaspora Manggarai di Nusa Tenggara Timur.

Dalam konteks pembangunan daerah, pendekatan berbasis budaya dinilai mampu memperkuat identitas kolektif sekaligus membuka peluang promosi budaya lintas wilayah.

Ke depan, keberadaan perangkat Caci ini berpotensi mendorong pertumbuhan kegiatan seni-budaya di Sikka, termasuk festival, pertunjukan lintas daerah, hingga pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas diaspora menjadi kunci agar warisan budaya tetap relevan di tengah perubahan zaman.**