Sejumlah penelitian etnobotani yang dilakukan di berbagai wilayah Manggarai raya mencatat bahwa lema ulas/berit termasuk tumbuhan obat yang paling sering disebut responden ketika ditanya tentang ramuan untuk batuk dan perawatan luka.

Hasil telaah menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pola pengolahan yang relatif seragam, yaitu daun direbus untuk dikonsumsi sebagai obat batuk serta ditumbuk untuk digunakan sebagai obat luar pada luka.

Pencatatan secara sistematis terhadap praktik ini memperkuat posisi lema ulas/berit sebagai komponen penting dalam pengobatan tradisional di tingkat rumah tangga.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, lema ulas/berit mulai dikaji dari sisi kimia dan farmakologinya. Sejumlah penelitian di berbagai wilayah menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi, serta berperan dalam mendukung proses penyembuhan jaringan kulit dan jaringan ikat pada luka.

Kesesuaian antara temuan penelitian dan pengalaman empiris masyarakat dalam pemanfaatan lema ulas/berit untuk meredakan batuk dan mempercepat pemulihan luka ringan menguatkan potensi pengembangannya sebagai produk herbal yang bernilai ekonomi, memiliki prospek komersial, serta mendukung kesehatan masyarakat.