LABUANBAJOVOICE.COM – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Kabupaten Manggarai Barat menggelar Kongres Biasa Tahun 2026 di Aula Kantor Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (1/3/2026).
Kongres ini menjadi forum evaluasi kinerja lima tahun kepengurusan sekaligus penetapan arah strategis pengembangan sepak bola daerah, dengan penekanan pada pembinaan usia dini, penguatan kompetisi lokal, dan pengembangan sepak bola putri.
Ketua PSSI Manggarai Barat, Marianus Yono Jehanu, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan maupun kekurangan selama periode kepengurusan bukan hanya tanggung jawab ketua, melainkan seluruh jajaran pengurus di setiap bidang.
“Terima kasih atas kerja keras seluruh pengurus selama lima tahun pertama, walaupun masih banyak kekurangan. Sepak bola Manggarai Barat tidak bisa berdiri di pundak satu orang, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua, dari ketua sampai bidang-bidang,” ujar Yono.
Ia menambahkan, konsistensi penyelenggaraan kompetisi tahunan menjadi komitmen yang tidak boleh ditinggalkan, meskipun menghadapi keterbatasan anggaran dan tantangan teknis di lapangan.
Dalam agenda program kerja, PSSI Manggarai Barat menargetkan penguatan pembinaan usia dini melalui kompetisi U-14 dan U-17, dengan pendekatan berbasis sekolah.
“Untuk U-17, rata-rata pemain berasal dari SMA. Karena itu, kami akan mulai dari sekolah-sekolah agar proses pembinaan lebih terarah dan berkelanjutan,” jelas Yono.
Koordinasi dengan instansi pendidikan dan sekolah sepak bola (SSB) akan diperkuat agar proses seleksi dan pembinaan berjalan sistematis, sekaligus memudahkan administrasi bagi peserta.
Kongres juga menyoroti peluang Manggarai Barat menjadi tuan rumah penyelenggaraan sepak bola putri tingkat provinsi. Informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari arahan PSSI NTT kepada pengurus kabupaten.
“Ada peluang Manggarai Barat menjadi tuan rumah sepak bola putri. Ini harus kita persiapkan serius, baik dari sisi organisasi, pembinaan atlet, maupun dukungan anggaran,” ungkap Yono.
Pengembangan Liga Putri dan partisipasi dalam ajang resmi menjadi prioritas, mengingat potensi besar pesepak bola putri di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya.
Meski optimistis, Yono tidak menutup mata terhadap tantangan klasik sepak bola daerah, terutama soal pendanaan dan infrastruktur.
Ia menyebut kebutuhan anggaran minimal ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan kompetisi secara ideal.
“Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan, biaya operasional sering kali menjadi kendala. Namun semangat membina anak-anak daerah tidak boleh padam,” tegasnya.
Melalui Kongres Biasa 2026, PSSI Manggarai Barat menegaskan komitmen membangun ekosistem sepak bola yang sehat, berjenjang, dan berkelanjutan, dengan harapan melahirkan pemain-pemain potensial yang mampu bersaing di level provinsi hingga nasional.**





Tinggalkan Balasan