LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara peningkatan kunjungan wisatawan dan kelestarian lingkungan di Taman Nasional Komodo (TNK), salah satu kawasan konservasi paling ikonik di Indonesia.

Di tengah tren peningkatan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dalam beberapa tahun terakhir, isu keberlanjutan menjadi perhatian utama.

BPOLBF memandang bahwa pertumbuhan sektor pariwisata tidak boleh mengorbankan daya dukung lingkungan, khususnya di kawasan TNK yang memiliki ekosistem sensitif dan nilai konservasi tinggi.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andy M. T Marpaung, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan fungsi koordinatif sebagai kunci utama dalam menjaga keseimbangan tersebut, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“BPOLBF menjaga keseimbangan antara peningkatan kunjungan wisatawan dan kelestarian lingkungan, khususnya di Taman Nasional Komodo, melalui peran koordinatif dengan berbagai pemangku kepentingan.” kata Andy, Kamis (9/4/2026).

Andy menegaskan bahwa salah satu pendekatan strategis yang dilakukan adalah mendorong penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan di seluruh lini aktivitas wisata. Hal ini mencakup pengendalian aktivitas wisata agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan.

Konsep ini menjadi krusial mengingat TNK tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga habitat alami komodo dan berbagai spesies lain yang dilindungi.

“Upaya yang dilakukan antara lain mendorong penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan, termasuk pengendalian aktivitas wisata agar tetap sesuai dengan daya dukung dan daya tampung kawasan.” jelasnya.

Pendekatan ini juga menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan lintas sektor, termasuk pengaturan jumlah kunjungan, aktivitas wisata, hingga pengelolaan destinasi berbasis zonasi.

Selain pengendalian kuantitas kunjungan, BPOLBF juga mengarahkan strategi pada peningkatan kualitas wisatawan melalui konsep quality tourism.

Pendekatan ini menitikberatkan pada wisatawan yang memiliki kesadaran lingkungan, menghargai budaya lokal, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih besar tanpa merusak ekosistem.

“BPOLBF juga mendukung penguatan kualitas kunjungan (quality tourism) dengan mendorong wisatawan yang lebih peduli terhadap lingkungan, serta mengedepankan edukasi kepada pelaku usaha dan wisatawan terkait praktik wisata yang bertanggung jawab.” ujarnya.

Menurut Andy, perubahan pola konsumsi wisata dari mass tourism ke quality tourism menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang.

BPOLBF juga menekankan pentingnya edukasi kepada pelaku usaha pariwisata, pemandu wisata, serta wisatawan. Edukasi ini mencakup praktik wisata ramah lingkungan, pengelolaan sampah, hingga perlindungan terhadap flora dan fauna di kawasan TNK.

Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah, otoritas taman nasional, pelaku usaha, hingga komunitas lokal menjadi fondasi dalam implementasi kebijakan berkelanjutan.**