LABUANBAJOVOICE.COM — Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berdampak langsung terhadap sektor pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dilaporkan mengalami penurunan tajam.

Konflik yang disebut pecah sejak 28 Februari 2026 itu mengganggu jalur penerbangan internasional, khususnya rute transit di kawasan Timur Tengah seperti Dubai, yang selama ini menjadi pintu utama wisatawan dari Eropa dan Amerika Latin menuju Asia.

Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori, menegaskan bahwa dampak konflik global tersebut sangat terasa di daerahnya.

“Dampak konflik di Timur Tengah sangat kami rasakan di sektor pariwisata Manggarai Barat. Terjadi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara yang cukup signifikan, terutama dari Eropa dan Amerika Latin,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Menurut Stefanus, selama ini mereka bergantung pada jalur transit di Dubai, sehingga ketika wilayah itu terganggu, arus kunjungan juga ikut terdampak.

Ia menjelaskan, wisatawan yang saat ini masih datang ke Labuan Bajo umumnya adalah mereka yang telah berada di kawasan Asia sebelum konflik terjadi. Mereka melanjutkan perjalanan melalui negara-negara seperti Singapura dan Malaysia.

“Sebagian wisatawan yang datang sekarang ini memang sudah berada di Asia sebelum konflik. Mereka melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, tetapi di sisi lain ada juga yang kesulitan untuk kembali ke negara asalnya karena keterbatasan penerbangan,” jelasnya.

Selain menekan angka kunjungan, kondisi ini juga berdampak pada pendapatan daerah. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mencatat adanya penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski tidak dalam skala drastis.

Situasi tersebut diperparah oleh faktor cuaca ekstrem yang sebelumnya menyebabkan penutupan sementara Taman Nasional Komodo pada Januari hingga Februari 2026.

“Dampaknya berlapis. Sebelumnya kita menghadapi cuaca ekstrem yang membuat aktivitas wisata terganggu, kemudian disusul konflik global. Ini tentu mempengaruhi tingkat kunjungan dan juga PAD daerah,” kata Stefanus.

Memasuki Maret 2026, operasional kawasan wisata mulai kembali normal. Namun pemulihan sektor pariwisata belum sepenuhnya terjadi karena masih adanya gangguan mobilitas wisatawan internasional.

Kadis Stefanus menegaskan bahwa Labuan Bajo merupakan bagian dari jaringan destinasi wisata global yang saling terintegrasi. Wisatawan umumnya mengunjungi beberapa negara dalam satu rangkaian perjalanan.

“Wisatawan mancanegara biasanya tidak hanya datang ke satu destinasi. Mereka punya paket perjalanan yang mencakup beberapa negara, seperti Singapura, Bali, hingga Labuan Bajo. Jika satu jalur terganggu, maka seluruh rangkaian perjalanan ikut terdampak,” ujarnya.

Ia berharap konflik di Timur Tengah dapat segera berakhir agar stabilitas perjalanan internasional kembali pulih dan sektor pariwisata di Manggarai Barat bisa bangkit kembali.

“Kami tentu berharap situasi ini segera membaik. Ketika konektivitas global pulih, maka kunjungan wisatawan juga akan kembali meningkat,” tutupnya.**