LABUANBAJOVOICE.COM – Di tengah laju pembangunan industri pariwisata nasional, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memperkuat langkah pengembangan destinasi berkelanjutan melalui perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan The Nusa Dua dan The Mandalika.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari implementasi prinsip Protecting Nature dalam kerangka keberlanjutan perusahaan yang menitikberatkan pada ketahanan iklim, efisiensi energi, pengelolaan air dan limbah, hingga perlindungan keanekaragaman hayati.
Langkah itu menunjukkan bahwa pembangunan destinasi wisata tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.
Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana, mengatakan keberadaan Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi strategis dalam memperkuat kualitas dan daya saing kawasan wisata modern.
“Penguatan RTH di The Nusa Dua dan The Mandalika diarahkan untuk menghadirkan ekosistem destinasi yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan, tidak hanya indah secara visual,” ujar Febrina, Sabtu (16/5/2026).
Menurut dia, ruang hijau kini menjadi bagian penting dari infrastruktur ekologis yang mampu membantu peningkatan kualitas udara, pengendalian suhu kawasan, serta memperkuat ketahanan destinasi terhadap dampak perubahan iklim.
Selain itu, pengembangan wisata berbasis alam seperti aktivitas luar ruang, wellness tourism, hingga rekreasi kawasan pesisir dinilai mampu memperkuat hubungan manusia dengan alam sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas.
“Pendekatan ini sekaligus menegaskan komitmen ITDC dalam menjaga keberlanjutan destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka panjang.” katanya.
Di kawasan The Nusa Dua, ITDC saat ini mengelola RTH seluas sekitar 97 hektare atau setara 27 persen dari total kawasan seluas 359,7 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 43 hektare telah ditanami lebih dari 5.700 pohon yang terdiri dari 138 jenis vegetasi, termasuk 32 jenis tanaman lokal dan endemik.
Keberadaan kawasan hijau itu tidak hanya memperkuat biodiversitas, tetapi juga menjaga karakter lanskap, mengendalikan suhu mikro, meningkatkan kualitas udara, serta menyediakan ruang publik yang nyaman dan inklusif bagi wisatawan maupun masyarakat.
The Nusa Dua juga menjadi salah satu kawasan wisata yang menerapkan sistem pengelolaan air berkelanjutan sejak 1979 melalui teknologi lagoon.
Sistem tersebut mampu mengolah sekitar 10 ribu meter kubik air limbah per hari untuk dimanfaatkan kembali sebagai irigasi kawasan hijau.
Penerapan sistem itu mendukung efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat konsep circular water system di kawasan wisata terpadu tersebut.
Berdasarkan kajian terbaru, total serapan karbon di kawasan The Nusa Dua mencapai 16.279,57 ton karbon. Kawasan itu memiliki rata-rata biomassa sekitar 102,6 ton per hektare dengan kandungan karbon sekitar 48,2 ton karbon per hektare atau setara 176,8 ton CO2e per hektare.
Data tersebut menunjukkan kemampuan vegetasi kawasan dalam menyerap dan menyimpan emisi karbon secara signifikan di tengah tingginya aktivitas industri pariwisata.
Sementara itu, di kawasan The Mandalika, pengembangan pariwisata berkelanjutan dilakukan melalui pengelolaan kawasan seluas 1.175 hektare dengan alokasi RTH mencapai sekitar 363 hektare atau 30 persen dari total area.
Sebagian kawasan hijau tersebut telah dikelola aktif untuk mendukung konservasi lingkungan dan peningkatan kualitas ekosistem pesisir.
Sepanjang 2025, ITDC telah melakukan penanaman lebih dari 10.400 pohon melalui program rehabilitasi lingkungan.
Program itu dilanjutkan pada 2026 dengan target penanaman 15 ribu pohon mangrove di kawasan pesisir sebagai langkah mitigasi abrasi dan perlindungan habitat alami.
Pengembangan The Mandalika juga menggabungkan konsep green space dan blue space melalui perpaduan vegetasi, pantai, laguna, dan area konservasi.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim, meningkatkan daya serap air, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir di destinasi super prioritas nasional itu.
“Integrasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), ITDC menempatkan RTH sebagai infrastruktur hijau strategis yang tidak hanya memperkuat daya saing destinasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mendukung pengembangan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, resilien, dan rendah karbon,” tutup Febriana.**






Tinggalkan Balasan