Menurut Mawardi, selama ini tantangan utama bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada aspek distribusi, kualitas, hingga akses pasar.

Oleh karena itu, kata dia, pendekatan inkubasi yang diterapkan dalam Floratama Academy dinilai relevan untuk menjawab persoalan tersebut secara komprehensif.

“Floratama Academy 2026 ini menjadi langkah strategis karena tidak hanya meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan, tetapi juga membuka akses pasar,” ujar Mawardi.

Ia menambahkan bahwa penguatan pelaku usaha pangan harus berjalan seiring dengan peningkatan standar, termasuk sertifikasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Melalui pendekatan inkubasi, kita mendorong petani dan nelayan agar semakin kuat, termasuk dalam hal sertifikasi produk sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.

Mawardi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seluruh pelaku di sektor pangan, mulai dari petani, peternak hingga nelayan, sebagai kunci keberhasilan program.

Ia berharap bahwa petani, peternak, dan nelayan turut berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan cita-cita ketahanan pangan dapat terwujud.