Berdasarkan pemeriksaan awal, setiap WN Uzbekistan mengaku membayar sekitar 8.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp140 juta kepada agen perjalanan dan penyedia kapal.
“Uang sebanyak itu bukan untuk paket wisata normal. Ini menunjukkan ada koordinator atau agen yang mengorganisir perjalanan mereka,” ungkap Saroha Manulang.
Dari hasil pemeriksaan sementara, perjalanan para WN Uzbekistan dimulai melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan laut melalui Kendari dengan rencana keluar dari wilayah Indonesia melalui perairan Rote.
Namun, kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin di perairan Alor sehingga akhirnya terdampar di pesisir Pulau Pantar.
Penyelidikan juga terkendala karena nahkoda kapal dilaporkan meninggalkan kapal dengan alasan mencari bantuan dan hingga kini belum ditemukan.
“Aktor intelektual di balik ini masih kami selidiki. Ada indikasi kuat ini bagian dari jaringan penyelundupan manusia,” tegas Saroha.





Tinggalkan Balasan