Ia mengidentifikasi sejumlah faktor pemicu, antara lain tersendatnya distribusi, pembelian berlebihan akibat kepanikan, dugaan permainan harga oleh oknum saat stok terbatas.
Maria juga mendorong langkah konkret seperti pengawasan harga, penambahan pasokan sementara, distribusi tepat sasaran, serta pendataan UMKM pengguna LPG.
Keluhan tidak hanya datang dari sektor kuliner. Asro, pelaku usaha Asro Tenun, menyebut kelangkaan juga terjadi pada BBM dan minyak goreng.
“Kami ini seperti anak yang kehilangan induk, tidak tahu harus mengadu ke mana,” ungkapnya.
Hasrinda dari Kuliner Kampung Ujung menyoroti adanya praktik kenaikan harga tidak wajar oleh oknum pedagang di tengah keterbatasan stok.
Selain LPG 12 kilogram, kelangkaan juga terjadi pada LPG 3 kilogram. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp45.000 per tabung.
Kondisi ini memicu tekanan ganda bagi UMKM, mulai dari pembengkakan biaya produksi hingga pengurangan jam operasional dan tenaga kerja.
Pak Dahlan dari Eluk Coffee merinci dampak yang kini dirasakan pelaku usaha:
“UMKM adalah penopang wisata, tapi justru tercekik oleh biaya energi,” tegasnya.






Tinggalkan Balasan