“Saya sendiri sudah tidak produksi lagi, sementara menunggu gas masuk. Untuk kafe keliling, tinggal satu tabung di sepeda motor. Untuk kebutuhan rumah, saya pakai kayu bakar,” katanya.
Hal serupa disampaikan Andi Basse Pattarani dari Abes Kuliner yang juga menghentikan usaha karena tidak tersedianya LPG sebagai bahan bakar utama.
Sementara itu, lonjakan biaya operasional menjadi beban tambahan. Dion, pemilik warung seafood di Kampung Ujung, mencatat kenaikan signifikan dalam pengeluaran bulanan.
“Biasa sebulan habis 4 tabung, Rp1.080.000. Sekarang jadi Rp1.600.000. Naiknya Rp520 ribu sendiri. Padahal harga menu tidak bisa langsung kami naikkan, takut pelanggan lari,” ujarnya.
Maria Srikandi Mayangsari, pemilik Komodo Gift, menilai kelangkaan tidak lepas dari persoalan distribusi dan lonjakan kebutuhan yang tidak diimbangi pasokan.
“Labuan Bajo sekarang bukan lagi kota kecil biasa. Kebutuhan hotel, restoran, kapal wisata, dan UMKM meningkat pesat. Tapi pasokan dan sistem distribusi belum cukup kuat menghadapi lonjakan kebutuhan, apalagi saat terjadi gangguan,” jelasnya.






Tinggalkan Balasan