Studi ini memperkirakan bahwa Labuan Bajo, yang mencakup empat desa, menghasilkan sekitar 4.836 ton sampah makanan pada tahun 2024. Menariknya, sumber nonrumah tangga menyumbang porsi yang lebih besar, yaitu 52%, sementara rumah tangga menyumbang 48%.

Temuan ini sangat berbeda dengan pola nasional maupun global. Food Waste Index UNEP tahun 2021 misalnya, mencatat bahwa rumah tangga umumnya menyumbang sekitar 65% sampah makanan pada sektor konsumsi.

Temuan di Labuan Bajo ini menunjukkan kuatnya pengaruh sektor pariwisata terhadap timbulan sampah, sebagaimana lonjakan kunjungan wisatawan telah mendorong pertumbuhan pesat hotel, restoran, kafe, dan berbagai usaha layanan makanan lainnya.

Salah satu temuan yang cukup menggembirakan adalah sekitar 59% sampah makanan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak. Di tengah gempuran modernisasi, praktik peternakan skala kecil masih banyak dijumpai di masyarakat.

Di banyak desa, peternak babi masih mengandalkan sistem tradisional berupa ember yang dititipkan ke rumah tangga atau pelaku usaha untuk diisi dengan sisa makanan, yang kemudian dikumpulkan secara berkala. Praktik ini terbukti ampuh mengelola sampah organik agar tak berakhir di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir).