LABUANBAJOVOICE.COM – Selama beberapa tahun terakhir, Labuan Bajo telah menjadi pusat agenda pariwisata Indonesia. Daerah ini semakin gencar dipromosikan di tingkat internasional sebagai etalase pariwisata premium Indonesia.

Hotel mewah, restoran kelas atas, dan berbagai atraksi wisata yang semakin modern telah mengubah kawasan yang dulunya merupakan desa nelayan yang tenang menjadi destinasi yang berkembang pesat.

Namun, di balik pesonanya, terdapat tantangan yang terus berkembang dan mengancam tidak hanya lingkungan, tetapi juga citra Labuan Bajo sebagai salah satu daerah wisata terbaik, yaitu sampah makanan.

Penelitian terbaru World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Garda Pangan dalam program Urban Futures yang dikelola oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) menunjukkan bahwa seiring jumlah wisatawan yang meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, timbulan sampah makanan juga ikut meningkat.

Berbeda dengan destinasi yang telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang matang, infrastruktur di Labuan Bajo nampaknya belum mampu mengimbangi laju perkembangan tersebut. Akibatnya, muncul kesenjangan yang semakin lebar antara narasi “destinasi pariwisata prioritas” dan kondisi nyata di lapangan.