Menurut Ditto, informasi yang diperoleh dari proses tersebut akan digunakan sebagai salah satu bahan kajian perusahaan untuk melihat potensi pengembangan layanan angkutan laut.

“Informasi yang diperoleh akan menjadi bahan kajian PELNI dalam melihat potensi pengembangan layanan angkutan laut ke depan,” ujar Ditto.

Dalam dokumen RFI, PELNI membuka informasi untuk dua tipe kapal HSC.

Tipe A merupakan kapal penumpang HSC dengan konstruksi katamaran. Kapal yang dibutuhkan memiliki kecepatan operasional sekitar 20–30 knot, draft 1–2 meter dan kapasitas penumpang sekitar 300–500 orang.

Sementara Tipe B merupakan kapal penumpang HSC dengan konstruksi monohull. Kapal tipe ini memiliki kecepatan operasional 20–30 knot, draft 1–1,5 meter dan kapasitas penumpang sekitar 200–400 orang.

Kapal yang ditawarkan diharapkan dapat mendukung operasional domestik di Indonesia dengan mempertimbangkan sejumlah aspek.

Aspek tersebut antara lain karakteristik rute, kondisi perairan, fasilitas pelabuhan, kapasitas penumpang, jangkauan pelayaran, kenyamanan, keselamatan serta keandalan operasional.