LABUANBAJOVOICE.COM – Minat wisatawan ke Labuan Bajo masih didominasi wisata bahari di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren kunjungan mulai menunjukkan peningkatan ke destinasi daratan di Pulau Flores.
Hal tersebut disampaikan Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Andy M. T Marpaung, dalam keterangannya kepada media di Labuan Bajo, Kamis (9/4/2026).
“Kami melihat bahwa saat ini belum terjadi pergeseran minat wisatawan secara signifikan dari wisata bahari ke wisata daratan, melainkan terjadi perluasan preferensi dan pola konsumsi wisata,” ujar Andy.
Menurut Andy, wisata bahari masih menjadi daya tarik utama Labuan Bajo, terutama untuk aktivitas unggulan seperti sailing, diving, dan island hopping di kawasan TNK.
Sebagian besar wisatawan masih menjadikan TNK sebagai tujuan utama kunjungan, dengan fokus pada pengalaman eksplorasi pulau dan laut yang menjadi ikon pariwisata Indonesia di kawasan timur.
Meski demikian, BPOLBF mencatat adanya peningkatan minat wisatawan terhadap destinasi daratan, meskipun porsinya masih lebih kecil dibandingkan wisata bahari.
Destinasi daratan yang mulai diminati antara lain desa wisata, wisata budaya, kuliner lokal, serta aktivitas berbasis alam di wilayah Flores.
“Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir terdapat peningkatan minat terhadap wisata daratan, seperti kunjungan ke desa wisata, wisata budaya, kuliner lokal, serta aktivitas berbasis alam di daratan Flores,” jelasnya.
BPOLBF menilai tren ini sebagai peluang strategis untuk mendorong diversifikasi produk wisata di Labuan Bajo dan Flores secara umum.
Integrasi antara wisata bahari dan daratan dinilai penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih lengkap.
Pendekatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay), sekaligus memperbesar dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Dengan memperkuat konektivitas antar destinasi serta meningkatkan kualitas atraksi daratan, Labuan Bajo berpotensi tidak hanya dikenal sebagai destinasi bahari kelas dunia, tetapi juga sebagai pusat wisata terpadu berbasis alam, budaya, dan komunitas.**






Tinggalkan Balasan