LABUANBAJOVOICE.COM — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Manggarai Barat dimaknai secara khusus oleh para eksponen pejuang pembentukan daerah otonom tersebut.
Refleksi sejarah dan syukuran digelar dalam suasana kekeluargaan di kediaman mantan Ketua DPRD Manggarai Barat, Matius Hamsi, Rabu (25/2/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi pejuang pemekaran yang sejak awal memperjuangkan lahirnya Manggarai Barat sebagai daerah otonom.
Dalam acara tersebut, Anggota DPRD dari Partai NasDem Marten Mitar bersama Rofinus Rahmat dari Partai Golkar menyerahkan sarung songket kepada Matius Hamsi yang didampingi istri sebagai simbol penghormatan atas dedikasi dan peran historisnya.
Rofinus menegaskan pertemuan itu bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan bentuk penghargaan moral terhadap para tokoh yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi berdirinya Manggarai Barat.
“Ini adalah reuni para eksponen pejuang pembentukan Manggarai Barat. Kami berkumpul untuk bersyukur di usia ke-23 tahun. Tanpa perjuangan para senior, daerah ini tidak akan berdiri seperti sekarang,” ujar Rofinus.
Ia mengungkapkan, seluruh eksponen pejuang sejatinya telah diundang dalam kegiatan tersebut. Namun, tidak semua dapat hadir karena berbagai kesibukan.
“Kami mengundang semua eksponen, tetapi banyak yang berhalangan hadir. Meski begitu, semangat kebersamaan dan rasa hormat kepada para pejuang tetap menjadi inti dari pertemuan ini,” tambahnya.
Sementara itu, politisi NasDem Marten Mitar menilai reuni ini sebagai pengingat bahwa pembentukan Manggarai Barat merupakan hasil perjuangan panjang yang sarat dinamika.
“Perjuangan ini melalui dinamika panjang, diskusi, bahkan perbedaan pandangan. Namun semua disatukan oleh cita-cita menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Marten.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh pemekaran dan masyarakat, antara lain Bernadus Barat Daya, Samsuria, Darius Angkur, Sil Syukur, Ambrosius Janggat, Nur Alvi, Ipi Rambu, Stefanus Herson, Rikard Jani, Inocentius Peni, serta undangan lainnya.
Bernadus menegaskan bahwa perjuangan pemekaran sejak awal dilandasi semangat mempercepat pembangunan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
“Kami dulu berjuang agar Manggarai Barat memiliki kewenangan mengatur rumah tangganya sendiri. Harapan kami, di usia ke-23 ini, pembangunan semakin merata hingga ke desa-desa, dan generasi muda ikut menjaga semangat perjuangan ini,” ungkapnya.
Kabupaten Manggarai Barat resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai.
Peresmian dilakukan pada 25 Februari 2003 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Pemerintah Republik Indonesia, dengan Labuan Bajo sebagai ibu kota kabupaten.
Catatan Redaksi
Di usia ke-23 tahun, refleksi para pejuang pemekaran menjadi pengingat penting bahwa lahirnya Manggarai Barat bukan sekadar keputusan administratif, melainkan hasil perjuangan kolektif rakyat.
Tantangan ke depan bukan hanya menjaga warisan sejarah, tetapi memastikan cita-cita pemekaran – pemerintahan yang dekat, pembangunan merata, dan kesejahteraan rakyat benar-benar terwujud secara berkelanjutan di tengah pesatnya arus pembangunan dan pariwisata.**





Tinggalkan Balasan