LABUANBAJOVOICE.COM — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Flores dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 17.28 WIB atau 18.28 WITA.

Guncangan gempa turut dirasakan warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan data sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sekitar 65 kilometer timur laut Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada koordinat 8.09 Lintang Selatan dan 119.21 Bujur Timur dengan kedalaman 12 kilometer.

Data ShakeMap BMKG menunjukkan gempa berasal dari aktivitas sesar aktif di wilayah NTB-Flores. Gempa dangkal tersebut memicu guncangan yang dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Labuan Bajo dan beberapa wilayah di Flores bagian barat.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Komodo, Maria Patricia Christin Seran, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa tektonik akibat aktivitas sesar aktif di kawasan NTB-Flores.

“Telah terjadi gempa bumi tektonik magnitudo 5,2 pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 17.28 WIB atau 18.28 WITA dengan pusat gempa berada di laut sekitar 65 kilometer timur laut Kota Bima, NTB pada kedalaman 12 kilometer akibat aktivitas sesar aktif di wilayah NTB-Flores,” ujar Maria, Rabu (20/5/2026).

Ia mengatakan guncangan gempa dirasakan di beberapa wilayah termasuk Labuan Bajo, Manggarai Barat. Meski demikian, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

“Gempa ini tidak berpotensi tsunami dan masyarakat dihimbau tetap tenang serta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan sambil terus memantau informasi resmi BMKG melalui aplikasi infoBMKG,” katanya.

Maria juga menambahkan bahwa rilis resmi lanjutan masih menunggu informasi dari Stasiun Geofisika NTB.

“Rilis resminya nanti menunggu dari stasiun geofisika NTB,” ujarnya.

Sejumlah warga Labuan Bajo mengaku sempat merasakan getaran selama beberapa detik, terutama di bangunan bertingkat dan kawasan pesisir.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi terkait kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.

Wilayah Flores dan Nusa Tenggara dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas kegempaan tinggi karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif.

BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik pascagempa untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.

Masyarakat diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengikuti informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah setempat.**