LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Manggarai Barat mencatat penurunan tingkat kemiskinan disertai pertumbuhan ekonomi yang solid sepanjang 2025, mencerminkan perbaikan struktur sosial dan ekonomi daerah berbasis pariwisata dan sektor primer.

Kepala BPS Kabupaten Manggarai Barat, Ikhe Suryaningrum, menjelaskan bahwa persentase penduduk miskin Manggarai Barat pada 2025 tercatat 16,09 persen, turun 0,65 persen poin dibandingkan tahun 2024.

Penurunan ini, kata dia, terjadi meskipun garis kemiskinan naik menjadi Rp477.226 per kapita per bulan, atau meningkat 4,01 persen secara tahunan.

“Penurunan kemiskinan ini menunjukkan daya tahan ekonomi rumah tangga membaik. Walau garis kemiskinan naik, rata-rata pengeluaran penduduk tumbuh lebih cepat,” tegas Ikhe di Labuan Bajo, Jum’at (27/2/2026).

Dikatakan Ikhe, BPS mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) sama-sama menunjukkan tren penurunan sepanjang 2021–2025.

Hal ini menandakan jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin kecil, serta ketimpangan di antara penduduk miskin kian menyempit .

Secara regional, Manggarai Barat berada pada kelompok menengah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan tantangan utama berada di wilayah perdesaan yang masih bergantung pada sektor primer.

Menurutnya, kinerja ekonomi Manggarai Barat sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan 5,82 persen (c-to-c), lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi NTT dan nasional. Pada Triwulan IV-2025, ekonomi bahkan tumbuh 5,88 persen (y-on-y).

Lebih lanjut, Ikhe katakan, pertumbuhan tertinggi dicatat pada jasa keuangan dan asuransi 85,47 persen; pengadaan listrik dan gas 47,18 persen; dan akomodasi dan makan minum 21,95 persen.

Sementara empat sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi daerah yaitu pertanian, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta administrasi pemerintahan, dan seluruhnya tumbuh positif.

“Struktur ekonomi Manggarai Barat semakin kuat. Pariwisata memberi efek pengganda yang nyata ke sektor perdagangan, jasa, dan transportasi,” kata Ikhe.

Dari 135,56 ribu penduduk bekerja pada Agustus 2025, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 54,14 persen, disusul sektor jasa dan industri .

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Manggarai Barat juga menunjukkan tren menurun sepanjang 2021–2025, dengan penurunan lebih nyata pada pengangguran perempuan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Manggarai Barat 2025 mencapai 69,20, tumbuh 0,76 persen. Namun angka ini masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan IPM Provinsi NTT sebesar 1,08 persen.

Komponen IPM menunjukkan umur harapan hidup 73,24 tahun; rata-rata lama sekolah 8,26 tahun; dan harapan lama sekolah 12,62 tahun.

“Ke depan, fokus kebijakan harus diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja lokal,” ujar Ikhe.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Manggarai Barat sepanjang 2025 didominasi tamu asing (59 persen), dengan rata-rata lama menginap 1,99 hari.

Sementara hotel non-bintang mencatat 63 persen tamu asing, menunjukkan kuatnya daya tarik internasional kawasan ini.

BPS menegaskan, keberlanjutan penurunan kemiskinan dan penguatan ekonomi daerah sangat bergantung pada diversifikasi ekonomi non-pariwisata, penguatan UMKM lokal, peningkatan kualitas SDM, dan optimalisasi Sensus Ekonomi 2026.

“Data menjadi fondasi kebijakan. Dengan data yang akurat, Manggarai Barat memiliki peluang besar mempercepat kesejahteraan masyarakat,” tutup Ikhe.**