LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis prakiraan cuaca wilayah perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape yang berlaku pada 8–10 April 2026.

Secara umum, tinggi gelombang di kawasan tersebut terpantau relatif rendah hingga sedang, namun pengguna jasa laut tetap diminta waspada terhadap potensi perubahan cuaca secara tiba-tiba.

Gelombang Relatif Rendah di Labuan Bajo
Berdasarkan data BMKG, tinggi gelombang di perairan Labuan Bajo berkisar antara 0,2 hingga 0,3 meter selama tiga hari ke depan.

Kondisi ini tergolong aman untuk aktivitas pelayaran skala kecil hingga menengah. Namun demikian, faktor angin kencang sesaat (gust) tetap berpotensi memengaruhi stabilitas perairan.

Di wilayah Taman Nasional Komodo, tinggi gelombang diprakirakan berkisar antara 0,3 hingga 0,6 meter.

Sementara itu, perairan Selat Sape bagian utara dan selatan menunjukkan variasi gelombang antara 0,3 hingga 0,6 meter.

Kondisi ini mencerminkan adanya dinamika arus laut yang cukup aktif, terutama di kawasan perairan terbuka dan jalur pelayaran utama.

BMKG mengingatkan seluruh pengguna jasa transportasi laut, nelayan, serta operator kapal wisata untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Dihimbau kepada para pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin (gust) yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” demikian pernyataan BMKG.

Selain itu, karakteristik perairan kepulauan di kawasan Komodo yang memiliki arus kuat juga menjadi perhatian penting bagi para nakhoda.

“Mengingat karakteristik Perairan Kepulauan Taman Nasional yang memiliki arus cukup kuat, para nakhoda dan nelayan dihimbau untuk memperhatikan jadwal pasang surut yang dapat menyebabkan perubahan kecepatan serta arah arus secara mendadak,” lanjut imbauan tersebut.

BMKG menekankan pentingnya perencanaan pelayaran yang matang, termasuk memperhatikan informasi cuaca terkini sebelum berlayar.

Hal ini penting untuk meminimalisasi risiko kecelakaan laut, terutama di kawasan wisata yang memiliki lalu lintas kapal cukup tinggi seperti Labuan Bajo dan Komodo.

Ke depan, peningkatan literasi cuaca bagi pelaku wisata bahari dan nelayan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan keselamatan pelayaran yang berkelanjutan di wilayah Manggarai Barat dan sekitarnya.**