LABUANBAJOVOICE.COM – Tanaman liar yang oleh masyarakat Manggarai raya pada umumnya dikenal lema ulas/berit atau daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) ini kerap muncul di sela-sela tanaman dan sekilas hanya tampak seperti rumput liar biasa.
Namun demikian, bagi banyak keluarga di Manggarai, tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai salah satu obat tradisional andalan untuk meredakan batuk dan mempercepat penyembuhan luka ringan.
Daunnya direbus dan air hangatnya diminum saat batuk menyerang, sementara daun yang ditumbuk halus biasa ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka sebagai baluran sederhana namun dipercaya manjur.
Sejak dulu, penggunaan lema ulas/berit berangkat dari pengalaman turun-temurun. Saat batuk tidak kunjung reda, air rebusan daun ini biasanya diminum beberapa kali dalam sehari.
Untuk luka gores atau luka kecil di kulit, daun segar dicuci, ditumbuk, kemudian ditempelkan pada area yang terluka untuk membantu mengeringkan dan mempercepat proses pemulihan.
Praktik-praktik sederhana ini menjadikan lema ulas/berit sebagai “apotek hidup” yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Sejumlah penelitian etnobotani yang dilakukan di berbagai wilayah Manggarai raya mencatat bahwa lema ulas/berit termasuk tumbuhan obat yang paling sering disebut responden ketika ditanya tentang ramuan untuk batuk dan perawatan luka.
Hasil telaah menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pola pengolahan yang relatif seragam, yaitu daun direbus untuk dikonsumsi sebagai obat batuk serta ditumbuk untuk digunakan sebagai obat luar pada luka.
Pencatatan secara sistematis terhadap praktik ini memperkuat posisi lema ulas/berit sebagai komponen penting dalam pengobatan tradisional di tingkat rumah tangga.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, lema ulas/berit mulai dikaji dari sisi kimia dan farmakologinya. Sejumlah penelitian di berbagai wilayah menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi, serta berperan dalam mendukung proses penyembuhan jaringan kulit dan jaringan ikat pada luka.
Kesesuaian antara temuan penelitian dan pengalaman empiris masyarakat dalam pemanfaatan lema ulas/berit untuk meredakan batuk dan mempercepat pemulihan luka ringan menguatkan potensi pengembangannya sebagai produk herbal yang bernilai ekonomi, memiliki prospek komersial, serta mendukung kesehatan masyarakat.
Menurut Eufrasia Jeramat, dosen yang tengah menempuh studi Doktor (S3) Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang, lema ulas/berit adalah contoh nyata pentingnya bioprospeksi tanaman obat lokal.
Bioprospeksi dimaknai sebagai upaya menggali potensi hayati tanaman—dalam hal ini untuk batuk dan luka—dengan cara yang adil dan bertanggung jawab.
Artinya, setiap upaya pengembangan produk berbasis lema ulas/berit harus diiringi pengakuan terhadap pengetahuan lokal, pelibatan masyarakat, serta pembagian manfaat yang berpihak pada komunitas masyarakat sebagai pemilik tradisi pemanfaatan tanaman ini.
Sebagai bagian dari komitmen akademiknya, Eufrasia merencanakan penelitian etnobotani yang secara khusus akan mendokumentasikan bagaimana masyarakat Manggarai mengenal, mengolah, dan menggunakan lema ulas/berit sebagai obat batuk dan luka.
Penelitian ini diharapkan mampu merangkum pengetahuan lokal, variasi cara penggunaan, serta nilai budaya dan upaya konservasi yang menyertainya, sekaligus menjadi dasar untuk pengembangan produk herbal yang berkelanjutan dan model bioprospeksi yang adil.
Dalam perspektif pendidikan, lema ulas/berit juga sangat potensial dijadikan sumber belajar pada mata kuliah konsep dasar biologi, pendidikan lingkungan hidup, dan pendidikan kesehatan.
Mahasiswa dapat diajak mengamati morfologi tanaman, mengenali sel dan jaringan yang menyusun daun, serta mengaitkannya dengan proses penyembuhan luka dan respons tubuh terhadap batuk.
Melalui kegiatan seperti pembuatan herbarium, praktikum sederhana, dan proyek kebun tanaman obat keluarga, konsep-konsep sains menjadi lebih konkret dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Eufrasia mendorong agar kebun tanaman obat keluarga dihidupkan kembali sebagai bagian dari gerakan menjaga kekayaan hayati lokal. Dengan menanam lema ulas/berit di pekarangan, keluarga tidak hanya memiliki cadangan obat rumahan untuk batuk dan luka, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal tanaman obat sejak dini. Dari sini diharapkan tumbuh kesadaran bahwa kekayaan alam Manggarai adalah warisan yang harus dirawat bersama.
Di tengah meningkatnya minat global terhadap produk herbal dan bahan alami, lema ulas/berit memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas sebagai herbal khas Manggarai untuk membantu meredakan batuk dan mendukung penyembuhan luka ringan.
Namun, Eufrasia menegaskan bahwa setiap langkah pengembangan dan bioprospeksi harus bertumpu pada penelitian yang kuat, etika yang jelas, dan keberpihakan pada masyarakat lokal.
Dengan memadukan pengetahuan tradisional, hasil penelitian etnobotani dan ilmiah, serta gerakan konservasi melalui kebun tanaman obat keluarga, lema ulas/berit berpotensi melangkah dari pekarangan rumah di Manggarai menuju panggung herbal yang lebih luas tanpa kehilangan jati dirinya sebagai herbal lokal yang berakar pada budaya setempat.**
Oleh: Eufrasia Jeramat
Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang






Tinggalkan Balasan