LABUANBAJOVOICE.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) mempercepat integrasi sistem digital pariwisata melalui aplikasi SIORA yang kini tengah disinergikan dengan aplikasi daerah “Gendang Mabar”.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat sistem reservasi, pengawasan, serta konsolidasi data kunjungan wisatawan di Labuan Bajo.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, dalam forum diskusi Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia yang digelar di kawasan Mawatu Labuan Bajo, Minggu (29/03/2026).
Menurut Fransiskus, integrasi SIORA dengan “Gendang Mabar” menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan kompleks dalam pengelolaan pariwisata, khususnya yang berkaitan dengan sinkronisasi data dan pengawasan lintas sektor.
“Kami sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah ‘Gendang Mabar’ untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan, agar ada konsolidasi antara regulasi dan implementasi di lapangan,” ujar Fransiskus.
Ia menegaskan, keberadaan sistem digital terintegrasi ini diharapkan mampu menghadirkan data real-time terkait pergerakan wisatawan, sekaligus meminimalisasi ketidaksesuaian antara kebijakan dan praktik di lapangan.
Di sisi lain, Fransiskus juga menyoroti pola kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo yang hingga kini masih didominasi oleh aktivitas wisata bahari, khususnya di kawasan Taman Nasional Komodo.
“Pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks, terutama dengan adanya Taman Nasional Komodo. Saat ini, sekitar 95% kunjungan wisatawan masih terpusat di laut, dengan proporsi wisatawan asing mencapai 78%,” kata Fransiskus.
Dominasi kunjungan ke destinasi laut tersebut menunjukkan bahwa wisata darat di Manggarai Barat belum berkembang secara optimal. Kondisi ini dinilai berdampak pada belum meratanya distribusi manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat lokal di wilayah daratan.
Pendalaman & Arah Kebijakan (Future Angle)
Integrasi SIORA dan “Gendang Mabar” menjadi bagian dari transformasi tata kelola pariwisata berbasis data di Manggarai Barat.
Sistem ini diharapkan mampu mengendalikan arus kunjungan ke kawasan konservasi,
memperkuat pengawasan aktivitas wisata,
serta membuka peluang pengembangan wisata darat secara lebih terencana.
Ke depan, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mengandalkan daya tarik wisata bahari, tetapi juga mempercepat diversifikasi destinasi di daratan, termasuk desa wisata, budaya lokal, dan ekonomi kreatif, guna menciptakan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.**






Tinggalkan Balasan