LABUANBAJOVOICE.COM – Upaya pelestarian budaya Manggarai terus diperkuat melalui jalur pendidikan anak usia dini. Sebanyak 100 anak dari berbagai sekolah di Labuan Bajo mengikuti workshop caci sejak 20 Februari 2026.
Kegiatan ini akan ditutup dengan pertunjukan kolosal pada 8 Maret 2026 di kawasan wisata Gua Batu Cermin.
Workshop tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kebudayaan dalam kategori ruang publik.
Kegiatan ini digagas oleh Mardaniyanti, seniman kreatif yang juga menjabat Sekretaris Umum Sanggar I Production Labuan Bajo.
Inisiator kegiatan, Mardaniyanti, menegaskan bahwa pengenalan caci sejak usia dini menjadi langkah strategis menjaga keberlanjutan warisan budaya Manggarai di tengah arus modernisasi dan pariwisata global.
“Caci tidak harus menunggu anak-anak menjadi dewasa. Sejak dini mereka bisa mengenal gerak, musik, dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Tentu dengan pendekatan yang aman dan sesuai usia,” ungkap Mardaniyanti dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan bahwa selama ini caci lebih dikenal sebagai pertunjukan orang dewasa yang identik dengan adu ketangkasan.
Melalui workshop ini, katanya, konsep caci dikemas secara edukatif, ramah anak, dan tetap menjaga esensi nilai budaya seperti sportivitas, keberanian, serta penghormatan terhadap tradisi.
Program ini diikuti siswa dari berbagai lembaga pendidikan, antara lain SDN Labuan Bajo 1, KB Kanawa, TK Pembina, SDN Batu Cermin, SD Lancang, SDI Waemata, SDK Familia, KB Bajo Kiddy, hingga SLB Labuan Bajo.
Para peserta didampingi mentor khusus di bidang musik tradisional, tari, serta teknik dasar caci. Jadwal latihan dirancang fleksibel—pagi, siang, atau sore—agar tidak mengganggu aktivitas belajar formal di sekolah.
Pendekatan kolaboratif antara sanggar, sekolah, dan orang tua dinilai menjadi kunci keberhasilan program. Pendidikan karakter berbasis budaya diharapkan berjalan beriringan dengan kurikulum akademik.
Setelah lebih dari dua pekan pelatihan intensif, seluruh peserta akan menampilkan hasil pembelajaran dalam pertunjukan terbuka pada 8 Maret 2026 di Gua Batu Cermin.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Selain menjadi salah satu ikon wisata Labuan Bajo, panggung terbuka di kawasan itu diharapkan mempertemukan ekspresi budaya lokal dengan audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Mardaniyanti berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi model pembinaan berkelanjutan.
Menurutnya, regenerasi pelaku seni tradisi harus dimulai dari ruang-ruang publik yang inklusif dan ramah anak. Dengan demikian, identitas budaya Manggarai tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan industri pariwisata yang pesat di Labuan Bajo.
Workshop caci usia dini ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan yang percaya diri menampilkan jati diri Manggarai di tingkat lokal maupun global.**





Tinggalkan Balasan