LABUANBAJOVOICE.COM — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru di SMKN 3 Komodo, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, mendapatkan atensi khusus dari aparat kepolisian setempat.

Guna membentengi generasi muda dari dampak negatif digitalisasi, personel Satuan Binmas (Sat Binmas) Polres Manggarai Barat menggelar sosialisasi intensif mengenai etika bermedia sosial dan pencegahan kecanduan game online, Selasa (7/7/2026) pagi.

Kegiatan pembinaan preventif (preemtif) yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.00 Wita ini dipimpin langsung oleh PS. Kaur Bin Ops (KBO) Sat Binmas Polres Manggarai Barat, Aiptu Teguh Rasul Ilahi, bersama sejumlah personel kepolisian.

Ratusan siswa kelas 10 yang baru saja menapaki jenjang pendidikan menengah kejuruan tersebut tampak antusias menyimak materi yang disajikan secara interaktif.

Bijak Bermedsos: “Saring Sebelum Sharing”

Dalam sesi pertama yang membahas etika digital, Aiptu Teguh menekankan pentingnya menerapkan prinsip kesopanan dan kehati-hatian di ruang siber. Di hadapan para siswa, ia mengingatkan bahwa setiap aktivitas digital meninggalkan rekam jejak yang dapat berimplikasi pada persoalan hukum, khususnya aturan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Adik-adik sekalian, di era digital ini, jempol kalian bisa menjadi penyelamat atau justru bumerang. Kami mengimbau agar selalu menerapkan prinsip ‘saring sebelum sharing’. Jangan mudah terprovokasi oleh berita bohong atau hoaks, hindari menyebarkan ujaran kebencian (hate speech), dan stop melakukan perundungan siber (cyberbullying),” tegas Aiptu Teguh di hadapan ratusan peserta didik baru SMKN 3 Komodo.

Ia menambahkan bahwa pembentukan karakter yang santun di dunia maya harus dimulai sejak dini agar para pelajar tidak terjerumus ke dalam lingkaran tindak pidana siber yang merugikan masa depan mereka.

“Karakter harus dibentuk sedini mungkin agar ke depannya para pelajar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif atau perbuatan kriminalitas di ruang digital,” ujarnya menambahkan.

Mengupas Sisi Gelap Kecanduan Game Online

Memasuki sesi kedua, bahasan beralih ke isu yang kini marak melanda remaja, yakni ketergantungan pada gawai untuk bermain game online. Sat Binmas Polres Mabar mengupas tuntas dampak buruk fenomena ini yang menyerang berbagai sendi kehidupan remaja, mulai dari kesehatan fisik hingga stabilitas mental.

“Bermain game itu boleh sebagai sarana hiburan, tetapi jika sudah tidak terkontrol, dampaknya sangat mengerikan. Secara fisik, radiasi layar bisa merusak mata, memicu nyeri sendi akibat posisi duduk yang salah, hingga risiko obesitas karena kurang bergerak,” papar Aiptu Teguh.

Tak hanya itu, kepolisian juga menyoroti ancaman kesehatan mental yang nyata, seperti stres, kecemasan berlebih, hingga perubahan perilaku menjadi lebih agresif saat gawai mereka disita.

“Ketergantungan ini dinilai menjadi pemicu utama merosotnya prestasi akademik, isolasi diri dari lingkungan nyata, hingga pembobolan saku orang tua demi membeli fitur berbayar di dalam permainan (in-app purchases),” tuturnya.

Sesi Tanya Jawab Interaktif yang Hangat

Suasana sosialisasi semakin hidup saat memasuki sesi diskusi kelompok. Para siswa memanfaatkan momentum ini untuk berkonsultasi langsung mengenai fenomena kecanduan digital yang kerap mereka saksikan atau alami di lingkungan sekitar.

Lastri, salah satu siswi baru, mengajukan pertanyaan kritis mengenai dampak kecanduan game terhadap interaksi sosial seseorang.

“Pak, mengapa sih kalau orang sudah kecanduan game online, hubungan sosialnya dengan keluarga atau teman-teman di dunia nyata jadi terganggu bahkan rusak?” tanya Lastri.

Aiptu Teguh langsung memberikan penjelasan yang humanis. “Ketika fokus dunia seorang anak berpindah sepenuhnya ke dunia virtual, kepekaan sosialnya akan tumpul. Empati dan kemampuan berkomunikasi tatap muka dengan orang tua maupun teman di sekitarnya perlahan memudar karena proses isolasi diri tersebut,” jawabnya ramah.

Pertanyaan senada diajukan oleh Genis, yang mempertanyakan fungsi awal game sebagai media hiburan.

“Tapi Pak, bukankah game online itu diciptakan untuk hiburan? Mengapa justru bisa membawa dampak negatif yang sangat besar bagi kami?” tuturnya.

Merespons pertanyaan tersebut, Aiptu Teguh menekankan aspek kendali diri.

“Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak baik, Genis. Game didesain secara psikologis dengan sistem penghargaan (rewards) yang terus-menerus memicu hormon dopamin di otak kita agar merasa senang dan ketagihan. Jika kita tidak memiliki disiplin diri yang kuat untuk membatasi waktu, fungsi hiburan tersebut secara perlahan akan bergeser menjadi kecanduan kompulsif yang merusak produktivitas harian,” jelas Aiptu Teguh.

Sementara itu, Cicin menyoroti gesekan yang sering kali terjadi di dalam rumah tangga akibat aktivitas bermain game.

“Pak, mengapa kecanduan game ini sering sekali memicu pertengkaran atau konflik, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan pertemanan?” tanya Cicin.

Aiptu Teguh menjelaskan bahwa akar dari masalah tersebut adalah adanya benturan prioritas hidup.

“Konflik muncul ketika prioritas utama kita sebagai anak dan pelajar bergeser. Saat adik-adik mulai mengabaikan nasihat orang tua, melalaikan tugas sekolah, atau bahkan berbohong untuk meminta uang demi membeli item game, di situlah kemarahan keluarga muncul. Di lingkungan pertemanan pun sama, emosi tidak stabil akibat kalah dalam permainan sering kali diluapkan kepada orang lain, yang akhirnya merusak keharmonisan hubungan,” terangnya panjang lebar.

Apresiasi Pihak Sekolah dan Harapan Harkamtibmas

Inisiatif “jemput bola” yang dilakukan oleh jajaran Polres Manggarai Barat ini mendapat apresiasi hangat dari pihak sekolah. Kepala SMKN 3 Komodo bersama jajaran dewan guru menyambut baik materi yang dibawakan secara persuasif dan mendalam tersebut.

“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian dari Sat Binmas Polres Manggarai Barat. Kehadiran bapak-bapak polisi di hari pertama anak-anak masuk sekolah ini sangat penting sebagai bekal moral. Kami berharap sosialisasi ini dapat membentengi anak didik kami dari bahaya laten dunia digital,” ujar Ibu Hortensia Herima, S.Pd., Kepala Sekolah SMKN 3 Komodo.

Di akhir kegiatan, kepolisian menegaskan bahwa program kemitraan masyarakat (Polmas) di sektor pendidikan akan terus digalakkan demi memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) sejak dini di wilayah hukum Polres Manggarai Barat.**