LABUANBAJOVOICE.COM — Kisah perjuangan hidup Sahidin (32), nelayan asal Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menyisakan haru mendalam bagi masyarakat pesisir Labuan Bajo.

Setelah sempat dilaporkan hilang di laut selama beberapa hari dan akhirnya ditemukan selamat, Sahidin kini mulai bangkit dari trauma yang membekas akibat peristiwa tersebut.

Di tengah proses pemulihan itu, perhatian dan dukungan datang dari jajaran Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Manggarai Barat bersama Direktorat Polairud Polda NTT.

Mereka mendatangi kediaman Sahidin pada Sabtu (16/5/2026) untuk memberikan bantuan sosial sekaligus dukungan moril kepada nelayan yang nyaris kehilangan harapan di tengah ganasnya perairan Komodo.

Kunjungan tersebut dipimpin langsung Kasat Polairud Polres Manggarai Barat, IPTU Leonardo Marpaung, S.IP., bersama sembilan personel menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo menuju Desa Papagarang.

Bagi keluarga Sahidin, kehadiran aparat kepolisian bukan sekadar kunjungan formal. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa Sahidin tidak menghadapi masa sulit seorang diri.

“Kami hadir di sini bukan hanya sebagai penegak hukum di perairan, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat pesisir. Kami ingin memastikan saudara kita, Sahidin, merasa didukung dan tidak sendirian setelah musibah yang menimpanya,” ujar IPTU Leonardo Marpaung saat bertemu keluarga Sahidin.

Suasana haru tampak menyelimuti rumah sederhana nelayan itu. Sahidin yang sebelumnya dikabarkan hilang di laut kini perlahan mencoba memulihkan kondisi fisik dan mentalnya.

Ia mengaku perhatian yang diberikan aparat kepolisian menjadi penyemangat baru setelah peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya.

“Saya sangat berterima kasih atas perhatian Bapak-bapak polisi. Kejadian kemarin memang sangat membekas, tapi kunjungan ini membuat saya merasa lebih tenang dan bersemangat lagi untuk kembali melaut nanti,” ungkap Sahidin.

Selain memberikan bantuan sosial, Satpolairud juga mengedukasi masyarakat pesisir terkait pentingnya keselamatan saat melaut.

Edukasi itu dinilai penting mengingat cuaca di wilayah perairan Manggarai Barat dalam beberapa waktu terakhir cukup ekstrem dan berpotensi membahayakan nelayan tradisional.

IPTU Leonardo mengingatkan para nelayan agar tidak mengabaikan perlengkapan keselamatan, termasuk penggunaan life jacket dan pemantauan kondisi cuaca sebelum berangkat melaut.

“Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Kami mengimbau rekan-rekan nelayan untuk selalu memantau prakiraan cuaca sebelum berangkat dan memastikan alat keselamatan siap di atas kapal. Nyawa adalah prioritas utama,” tegasnya.

Perhatian terhadap Sahidin juga menjadi gambaran pendekatan humanis kepolisian di wilayah pesisir Labuan Bajo.

Di tengah tantangan kehidupan nelayan yang bergantung penuh pada kondisi alam, dukungan psikologis dinilai penting agar masyarakat tetap memiliki rasa aman dan kepercayaan diri untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat harus dirasakan bukan hanya saat penegakan hukum, tetapi juga ketika warga menghadapi situasi sulit.

“Kami ingin Polri tidak hanya hadir saat ada penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai pelindung dan pengayom yang memiliki empati tinggi. Kehadiran personel di kediaman saudara Sahidin adalah wujud nyata dari komitmen kami untuk selalu mendampingi masyarakat dalam situasi sesulit apa pun,” kata AKBP Christian.

Usai mengunjungi Sahidin, personel Satpolairud melanjutkan patroli perairan di sekitar Pulau Seraya guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah laut Labuan Bajo tetap aman dan kondusif.

Peristiwa yang dialami Sahidin menjadi pengingat keras bagi masyarakat pesisir tentang pentingnya keselamatan pelayaran di tengah cuaca laut yang tidak menentu.

Di sisi lain, kisah ini juga memperlihatkan bahwa solidaritas dan kepedulian sosial masih menjadi kekuatan utama bagi warga pesisir yang hidup berdampingan dengan risiko laut setiap hari.**