Selain itu, ia menekankan pentingnya penyederhanaan desain surat suara, termasuk tampilan gambar calon kepala desa agar mudah dipahami oleh pemilih.

Menurutnya, kompleksitas desain berkontribusi terhadap tingginya kesalahan teknis di lapangan.

“Data dari Pilkades sebelumnya menunjukkan tingginya angka blanko, termasuk di tempat pemungutan suara (TPS) yang didominasi pegawai negeri,” ujarnya.

“Bagaimana mendesain kertas dan gambar calon itu supaya sesederhana mungkin,” tegasnya Bupati.

Selain persoalan teknis pemungutan suara, Bupati Endi juga menekankan pentingnya validitas Data Pemilih Tetap (DPT).

Ia mengingatkan agar tidak ada warga yang kehilangan hak pilih akibat kesalahan pendataan.

“Jangan ada yang terlewatkan. Jangan sampai ada data pemilih yang tidak terdata di DPT, karena hal ini akan mengganggu stabilitas pemilihan,” tegas Bupati.

Akurasi DPT dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga legitimasi hasil Pilkades, sekaligus mencegah potensi konflik pascapemungutan suara.

Dalam konteks yang lebih luas, Endi menekankan bahwa seluruh tahapan Pilkades harus dilaksanakan sesuai prosedur yang baik dan benar.