Menurut Ali, aktivitas kapal besar tersebut terjadi sejak Selasa malam, 12 Mei hingga Rabu malam, 13 Mei 2026, di kawasan tangkap ikan layang yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan kecil di sekitar Seraya.

Ia menjelaskan, ketika tiba di lokasi penangkapan, kapal pukat cincin disebut telah lebih dulu beroperasi dengan menggunakan lampu sorot berintensitas tinggi serta jaring berukuran besar.

“Ceritanya begini. Saya melaut di titik pertama lalu saya pindah lokasi di tempat kami biasa dapat ikan layang. Dan ternyata mereka sudah duluan parkir di kawasan kami. Jadi kami sangat terganggu dengan kejadian kemarin malam itu,” ujarnya.

Ali menilai kehadiran kapal pukat cincin mulai berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan tradisional. Bahkan, kata dia, sejumlah pemancing kombong mengeluh karena hasil tangkapan menurun drastis dibanding biasanya.

“Sampai-sampai nelayan mancing kombong menangis menjerit dikarenakan pendapatan mereka tidak seperti biasanya pak,” katanya.

Ia menyebut kapal-kapal tersebut diduga berasal dari Makassar. Sementara pihak yang mendatangkan kapal ke wilayah Labuan Bajo disebut berasal dari Desa Seraya Maranu atau Seraya Besar.