LABUANBAJOVOICE.COM – Kunjungan wisatawan pasca Idulfitri 1447 H/2026 Masehi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terkonsentrasi kuat di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mencatat, sekitar 93 persen pergerakan wisatawan selama periode 22–25 Maret 2026 mengarah ke destinasi unggulan tersebut.
Data tersebut dihimpun dari Tim Posko Lebaran Gabungan yang beroperasi di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo.
“Berdasarkan data dari Tim Posko Lebaran Gabungan, dominasi kunjungan wisatawan adalah di Taman Nasional Komodo dengan persentase sekitar 93%,” ujar Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andy M.T. Marpaung, Kamis (26/3/2026).
Menurut Andy, tingginya konsentrasi kunjungan ke TNK menunjukkan bahwa kawasan konservasi tersebut masih menjadi magnet utama pariwisata Labuan Bajo, terutama pada momentum libur panjang seperti Lebaran.
“Total penumpang wisata yang menuju TNK selama periode 22- 25 Maret adalah 5.956 penumpang,” kata Andy.
Secara rinci, jumlah kunjungan harian menunjukkan tren fluktuatif dengan puncak terjadi pada awal periode arus liburan.
Pada Minggu (22/3), tercatat 1.523 wisatawan menuju TNK, meningkat pada Senin (23/3) menjadi 2.212 wisatawan.
Selanjutnya, jumlah kunjungan menurun pada Selasa (24/3) sebanyak 1.239 wisatawan dan kembali turun pada Rabu (25/3) menjadi 982 wisatawan.
Meski data rinci asal negara wisatawan belum sepenuhnya terpetakan, BPOLBF mencatat komposisi sementara yang menunjukkan dominasi wisatawan mancanegara dalam kunjungan ke TNK.
“Sejauh ini, kami belum memiliki data rinci terkait asal negara wisatawan, namun data yang bisa kami sampaikan adalah bahwa mayoritas wisatawan selama periode pasca Idulfitri idulfitri khususnya ke TNK adalah wisatawan mancanegara dengan proporsi 43% wisatawan domestik dan 57% wisatawan mancanegara (angka sementara),” tegasnya.
Kondisi ini menandai peran strategis TNK sebagai episentrum pariwisata Labuan Bajo yang tidak hanya bergantung pada pasar domestik, tetapi juga mulai menunjukkan penguatan dari wisatawan internasional.
Namun demikian, tingginya konsentrasi kunjungan di satu kawasan juga memunculkan tantangan tersendiri, terutama terkait daya dukung lingkungan, pengelolaan arus wisatawan, serta pemerataan destinasi di luar TNK.
Ke depan, distribusi kunjungan ke destinasi alternatif di sekitar Labuan Bajo dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem TNK sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Tanpa strategi diversifikasi destinasi, tekanan terhadap kawasan konservasi berisiko meningkat seiring tren pertumbuhan wisatawan.**






Tinggalkan Balasan