Dalam sambutannya, Widiyanti kembali mengingat pertanyaan yang pernah disampaikan Keuskupan Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, sekitar lima tahun lalu mengenai bagaimana Labuan Bajo dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan masyarakat.

Menurut Widiyanti, Festival Golo Koe menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut karena mampu mempertemukan iman, tradisi, budaya, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam sebuah perayaan yang terbuka bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja,” ujar Widiyanti.

Ia menilai kekuatan Festival Golo Koe tidak hanya terletak pada daya tarik acaranya, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama dalam memperkenalkan identitas Labuan Bajo kepada wisatawan.

“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” katanya.