LABUANBAJOVOICE.COM — Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Zhang Zhi Sheng, meminta petugas Imigrasi di Labuan Bajo memiliki kemampuan berbahasa Mandarin guna mempermudah komunikasi dengan wisatawan asal China yang datang ke destinasi super prioritas tersebut.

Permintaan itu disampaikan saat kunjungan kerja Konjen RRT ke Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Senin, 25 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, Konjen RRT didampingi Tim Penghubung Konjen RRT NTT, Charles Angliwarman.

Sebelum bertemu pihak imigrasi, Zhang Zhi Sheng tiba di Bandara Internasional Komodo dan disambut Tim Penghubung Konjen RRT Wilayah NTT Charles Angliwarman, pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Manggarai Barat serta Kepala UPBU Kelas I Komodo.

Dari bandara, rombongan melanjutkan kunjungan ke KSOP Kelas III Labuan Bajo sebelum menuju kantor imigrasi dan diterima langsung Kepala Kantor Imigrasi, Charles Christian Mathaus bersama jajaran.

Charles Angliwarman menjelaskan, salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut adalah kebutuhan petugas imigrasi yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin karena wisatawan asal China mendominasi kunjungan internasional ke Labuan Bajo.

“Permintaan dari Konjen supaya nanti ada juga petugas imigrasi yang bisa berbahasa Mandarin dalam berkomunikasi dengan turis China. Karena hampir 90 persen turis China ke Labuan Bajo, dan tempat pertama yang mereka temui adalah imigrasi sebelum keluar dari bandara,” kata Charles Angliwarman usai pertemuan.

Menurut dia, kemampuan bahasa Mandarin penting agar petugas dapat melakukan pemeriksaan awal secara lebih efektif terhadap wisatawan asing.

“Imigrasi bisa menanyakan identitas mereka, menginap di mana, datang dengan siapa, dan kegiatan apa yang akan dilakukan selama di Labuan Bajo,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, pihak Konjen RRT juga mendorong agar tersedia papan informasi atau tanda petunjuk dalam bahasa Mandarin di area imigrasi guna memudahkan wisatawan asal China memahami prosedur kedatangan.

Selain itu, dibahas pula program pelatihan bahasa Mandarin bagi petugas imigrasi yang sudah mulai dilakukan beberapa pekan terakhir dengan melibatkan tenaga pengajar asal China.

“Sudah ada guru dari China yang mengajar orang-orang imigrasi beberapa minggu lalu supaya mereka bisa fasih berkomunikasi,” kata Charles.

Tidak hanya pelatihan, rencananya juga akan digelar kompetisi kemampuan bahasa Mandarin bagi pegawai imigrasi. Kompetisi itu disebut akan melibatkan media sosial sebagai sarana seleksi dan promosi.

“Nanti ada semacam lomba untuk pegawai imigrasi yang fasih bahasa Mandarin. Mereka bisa daftar melalui Instagram dan akan mendapat hadiah,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Konjen RRT turut menyampaikan usulan terkait penulisan identitas wilayah dalam dokumen keimigrasian.

Menurut Charles, pihak Konjen meminta agar kategori penulisan tidak hanya menggunakan istilah “country”, tetapi juga “countries and region”.

“Karena seperti Macau, Taiwan, dan Hong Kong dianggap bagian dari China, sehingga diusulkan penulisannya menjadi countries and region,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, disebut menyampaikan apresiasi atas masukan dan dukungan dari pihak Konjen RRT, terutama terkait pelatihan bahasa Mandarin bagi petugas.

“Mereka bersyukur karena memang wisatawan China cukup dominan dan pelatihan bahasa Mandarin sangat membantu pelayanan di imigrasi,” ujar Charles Angliwarman.

Peningkatan kapasitas petugas imigrasi dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata internasional yang ramah bagi wisatawan mancanegara, khususnya turis asal China yang terus mengalami peningkatan kunjungan dalam beberapa tahun terakhir.**