Dengan dimensi lebar sekitar 3 meter, proses pengerjaan patung memerlukan ketelitian tinggi untuk menyusun ratusan komponen knalpot menjadi bentuk Komodo yang proporsional dan realistis.

Pak Haji Zaeb (48), salah satu perajin yang terlibat dalam proyek tersebut, mengaku menghadapi tantangan besar selama proses perakitan.

“Menyatukan ratusan pipa besi knalpot yang meliuk-liuk agar bisa membentuk anatomi tubuh Komodo yang proporsional itu sangat menantang. Tapi kami bangga. Ini bukan sekadar mengelas besi tua, kami sedang membuat sejarah baru di kota kami sendiri,” ungkap Pak Haji penuh semangat.

Hasil akhirnya menampilkan sosok Komodo dengan detail yang unik. Potongan-potongan knalpot yang disusun menyerupai sisik menghasilkan tekstur yang menggambarkan karakter asli satwa endemik Nusa Tenggara Timur tersebut.

Kehadiran patung Komodo dari knalpot brong menjadi bukti bahwa barang sitaan hasil penegakan hukum dapat dimanfaatkan secara produktif dan bernilai sosial.

Di saat yang sama, karya tersebut memperkuat citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang tertib, ramah lingkungan, dan kreatif.