“Rumah ini sudah dibangun kurang lebih 4 tahun lalu,” kata Stefanus.

Namun, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung itu runtuh hanya dalam waktu singkat akibat guncangan gempa.

“Rumah utuh itu pun runtuh sekejap, saya menahan air mata. Saya seperti orang kehilangan arah,” lanjutnya.

Rumah berdinding batu bata tersebut merupakan salah satu rumah yang dibangun dengan bantuan pemerintah.

Stefanus mengatakan, saat pembangunan rumah itu, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp8 juta. Namun, dana tersebut menurutnya belum mencukupi seluruh kebutuhan pembangunan.

Untuk menutupi kekurangan biaya, Stefanus terpaksa menjual sebidang tanah miliknya.

“Memang rumah ini dibangun ada campur tangan pemerintah. Saat itu total bantuannya 8 juta. Tentu tidak cukup, saya pun menjual sebidang tanah, sehingga rumah ini bisa dibangun kokoh,” kata Stefanus.

Karena itu, runtuhnya rumah tersebut bukan hanya berarti kehilangan bangunan. Bagi Stefanus, kejadian itu juga berarti hilangnya hasil perjuangan selama bertahun-tahun untuk memiliki tempat tinggal yang layak.