LABUANBAJOVOICE.COM — Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Manggarai Barat, Fatinci Reynilda, menegaskan pentingnya standar dan keaslian pangan lokal dalam Kick Off Floratama Academy (FA) 2026.
Ia menilai regulasi daerah menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan.
Dari sudut pandang pemerintah daerah, Floratama Academy 2026 tidak hanya menjadi program peningkatan kapasitas, tetapi juga momentum penataan sistem pangan lokal yang lebih berintegritas.
Fatinci menekankan bahwa kehadiran regulasi melalui Peraturan Bupati (Perbup) diarahkan untuk memastikan pemanfaatan pangan lokal berjalan optimal dan terukur.
Menurutnya, selama ini penggunaan label “pangan lokal” kerap belum sepenuhnya mencerminkan asal bahan baku yang sebenarnya. Karena itu, pemerintah daerah mendorong kebijakan yang lebih tegas dan terstandar.
“Kami ingin memastikan bahwa penggunaan label ‘pangan lokal’ mencerminkan keaslian bahan baku, bukan sekadar penggunaan tenaga kerja lokal sementara bahan bakunya masih didatangkan dari luar daerah,” kata Kadis Fatinci dalam kegiatan kick off Floratama Academy 2026.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga integritas produk, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh petani dan nelayan lokal. Dengan demikian, rantai nilai pangan dapat berputar di dalam daerah.
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah menyiapkan sistem penanda berupa stiker atau cap khusus sebagai jaminan keaslian produk pangan lokal.
“Dalam ketentuan yang berlaku, minimal 60 persen bahan baku harus berasal dari wilayah lokal,” ujar Kadis Fatinci.
Lebih jauh, ia menyebut pelaku usaha yang mampu melampaui standar tersebut akan diberikan apresiasi sebagai bentuk insentif.
“Ini merupakan upaya bersama untuk menjaga integritas sekaligus memperkuat ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan,” ujarnya.
Kick Off Floratama Academy 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menjadi ruang strategis untuk mengintegrasikan kebijakan daerah dengan program peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Program yang telah memasuki tahun keenam sejak diluncurkan pada 2021 ini berfokus pada penguatan pelaku usaha pangan, mulai dari produksi hingga akses pasar.
Tahapan kegiatan dimulai dari pendaftaran dan kurasi pada 20 April hingga 31 Mei 2026, dilanjutkan dengan pelatihan, mentoring, hingga bootcamp.
Pada tahap bootcamp, 30 peserta terbaik akan mendapatkan pendampingan langsung (on farm) oleh tenaga ahli hortikultura guna meningkatkan kualitas produksi dan praktik budidaya berkelanjutan.
Dalam kegiatan yang sama, Asisten Deputi Sistem Distribusi Pangan Kemenko Bidang Pangan; Muhamad Mawardi, menekankan pentingnya kemandirian pangan berbasis potensi lokal.
“Kita perlu mengurangi ketergantungan pangan dari luar dengan membangun sistem pangan mandiri berbasis potensi lokal. Pasokan dari kebun maupun laut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi nilai tambah bagi destinasi dan daya tarik bagi wisatawan,” kata Mawardi.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyoroti masih tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah.
“Ketersediaan bahan pangan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, masih menjadi tantangan, di mana ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga masih cukup tinggi,” ujar Andhy.
Ia menegaskan bahwa Floratama Academy dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara produksi lokal dan kebutuhan industri pariwisata.
Dari perspektif Fatinci, keberhasilan Floratama Academy 2026 sangat bergantung pada konsistensi implementasi kebijakan dan pengawasan standar pangan lokal.
Regulasi tanpa penguatan kapasitas pelaku usaha berisiko tidak efektif, begitu pula sebaliknya.
Karena itu, sinergi antara program inkubasi seperti Floratama Academy dan kebijakan daerah menjadi kunci dalam menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan.**






Tinggalkan Balasan