Padahal, kata Rafael, keterlibatan laki-laki dalam keluarga berencana merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam merencanakan kehidupan keluarga.

Ia menilai program KB, baik MOW maupun MOP, tidak hanya berkaitan dengan pengendalian angka kelahiran, tetapi juga berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup keluarga.

Menurutnya, keluarga yang merencanakan jumlah anak sesuai kemampuan akan lebih mudah memenuhi kebutuhan gizi, pendidikan, hingga kesehatan anak.

“Kalau jumlah anak disesuaikan dengan kemampuan keluarga, otomatis anak dapat dirawat lebih baik. Risiko stunting juga menjadi lebih rendah karena kebutuhan anak sejak dalam kandungan, masa menyusui hingga balita dapat dipenuhi secara optimal,” katanya.

Rafael mengatakan pada 2026 belum ada pelaksanaan pelayanan MOP karena adanya penyesuaian anggaran sebagai dampak kebijakan refocusing fiskal.

Meski demikian, DPPKB telah memasukkan kembali program tersebut dalam rencana kerja tahun 2027.

“Tahun depan sudah kita rencanakan kembali. Target awal kita di atas 10 peserta, meskipun nanti masih menunggu persetujuan anggaran dan hasil pembahasan,” ujarnya.