LABUANBAJOVOICE.COM – Pemerintah Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, mengeluarkan pengumuman resmi terkait kewaspadaan dan pencegahan penyebaran penyakit African Swine Fever (ASF) pada ternak babi di wilayah tersebut.

Pengumuman bernomor KEC-SNG.500.7.2/149/III/2026 itu diterbitkan pada 30 Maret 2026 di Werang dan ditandatangani oleh Camat Sano Nggoang, Alfonsius Arfon.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari surat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat tertanggal 17 Maret 2026 mengenai pencegahan penularan ASF.

Dalam pengumuman tersebut, pemerintah kecamatan mengimbau seluruh masyarakat, khususnya peternak babi, untuk meningkatkan kewaspadaan melalui penerapan langkah-langkah pencegahan yang ketat.

Beberapa poin penting yang ditekankan antara lain penerapan biosekuriti kandang secara rutin, pembatasan akses orang luar ke area peternakan, larangan pemberian pakan sisa makanan rumah tangga, hingga pengawasan lalu lintas ternak.

Selain itu, masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila ditemukan ternak babi dengan gejala seperti demam tinggi, tidak mau makan, kemerahan pada telinga atau perut, hingga kematian mendadak.

Pemerintah juga melarang keras pembuangan bangkai babi sembarangan. Bangkai ternak yang mati akibat penyakit wajib dikubur dengan kedalaman minimal 1,5 meter guna mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

“Kami tidak ingin masyarakat lengah. Penyakit ASF ini sangat berbahaya karena bisa mematikan ternak secara cepat dan berdampak langsung pada ekonomi warga. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari disiplin peternak sendiri,” ujar Alfonsius, Selasa (31/3/1026).

Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat, termasuk dengan petugas kesehatan hewan dan pemerintah desa.

“Kami mendorong para kepala desa untuk segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Ini bukan hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi keluarga peternak di Sano Nggoang,” katanya.

Alfonsius berharap seluruh masyarakat di wilayah kerjaannya untuk mematuhi pengumuman yang telah dikeluarkan oleh pemerintah kecamatan.

“Setiap ada pemotongan ternak baiknya dikonsultasikan dengan petugas kesehatan hewan,” harap Camat Sano Nggoang.

ASF merupakan penyakit virus yang tidak menular ke manusia, namun memiliki tingkat kematian tinggi pada babi. Jika tidak dikendalikan, wabah ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi lokal, terutama di wilayah yang bergantung pada sektor peternakan babi.

Langkah cepat pemerintah kecamatan dinilai sebagai upaya strategis untuk menekan risiko penyebaran. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap protokol yang telah ditetapkan.

Ke depan, penguatan sistem biosekuriti, edukasi berkelanjutan, serta monitoring ketat distribusi ternak menjadi kunci utama dalam menjaga wilayah Sano Nggoang tetap aman dari wabah.**