LABUANBAJOVOICE.COM — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores menyatakan dukungan penuh terhadap program “Silentium Magnum” atau Jumat Hening 2026 yang akan dilaksanakan di Labuan Bajo pada perayaan Jumat Agung, 3 April 2026.

Dukungan tersebut tertuang dalam siaran pers resmi BPOLBF Nomor 025/SP/KOMBLIK/BPOLBF/III/2026 yang diterima media pada Rabu, 1 April 2026.

Program ini menjadi bagian dari rangkaian Tri Hari Suci Paskah dan memasuki tahun kedua pelaksanaannya setelah mendapat respons positif pada 2025.

Pelaksanaan Jumat Hening akan diisi dengan pembatasan aktivitas masyarakat pada waktu tertentu guna menciptakan suasana hening, reflektif, dan penuh makna.

Selain mendukung kekhusyukan ibadah, program ini juga bertujuan mengurangi kebisingan dan aktivitas kendaraan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, menegaskan bahwa Silentium Magnum bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, melainkan gerakan bersama lintas elemen masyarakat.

“Tidak semata-mata juga ini soal urusan keagamaan, tapi sebenarnya kita mau mewujudkan bahwa alam ini mau beristirahat,” ujar Endi.

Ia menambahkan, pembatasan aktivitas merupakan bentuk refleksi kolektif atas dampak pembangunan terhadap lingkungan.

“Alam tidak mau disibukkan dengan urusan-urusan kemajuan seperti penggunaan kendaraan dan lain sebagainya,” katanya.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT. Marpaung, menyebut Silentium Magnum sebagai inovasi yang mengintegrasikan nilai spiritual, budaya, dan keberlanjutan dalam pengembangan pariwisata.

“Silentium Magnum bukan sekadar momentum keagamaan, tetapi juga refleksi bersama tentang bagaimana kita memaknai perjalanan—baik sebagai individu maupun sebagai destinasi,” ujarnya.

Menurutnya, keheningan yang diciptakan menjadi ruang untuk menghormati alam, budaya, serta kehidupan masyarakat lokal di Labuan Bajo dan Pulau Flores secara umum.

BPOLBF menilai keberlanjutan program ini harus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, pelaku pariwisata hingga masyarakat.

Sebagai salah satu destinasi prioritas nasional, Labuan Bajo diarahkan tidak hanya pada keindahan alam, tetapi juga pengalaman wisata yang bermakna dan berkelanjutan.

Melalui program Jumat Hening, wisatawan diajak tidak hanya menikmati panorama, tetapi juga merasakan nilai spiritual dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

BPOLBF optimistis pelaksanaan tahun kedua Silentium Magnum akan semakin memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi yang eksotis, reflektif, berbudaya, dan berkelanjutan di tingkat global.**