LABUANBAJOVOICE.COM — Kolaborasi antara Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo menghadirkan ruang diskusi publik bertajuk “Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” pada Minggu (29/03/2026).

Forum ini mempertemukan pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah arah masa depan pariwisata di destinasi super prioritas tersebut.

Diskusi menyoroti ketimpangan pengembangan sektor wisata di Labuan Bajo yang masih didominasi wisata bahari, sementara potensi wisata darat, seni, dan ekonomi kreatif dinilai belum optimal dan belum sepenuhnya melibatkan masyarakat lokal.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andi MT Marpaung, mengapresiasi capaian Taman Nasional Komodo yang dinobatkan sebagai destinasi terindah kedua di dunia oleh majalah Time Out.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada daya tarik alam semata berpotensi menimbulkan kejenuhan wisatawan.

“Kita harus mendorong diversifikasi produk agar tidak hanya berbasis bahari. Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda,” kata Andy dalam sesi dialog tersebut.

Menurutnya, penguatan sektor budaya dan ekonomi kreatif menjadi langkah strategis untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih beragam dan berkelanjutan.

BPOLBF, lanjut Andy, telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung hal tersebut, salah satunya melalui inisiatif Weekend At Parapuar yang berfokus pada pembinaan pelaku seni dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

“Kami melalui program seperti ‘Weekend At Parapuar’ terus membina sanggar seni dan UMKM agar mereka memiliki panggung rutin dan bisa mandiri secara bisnis (B2B) dengan hotel atau restoran, bukan sekadar bergantung pada bantuan pemerintah,” kata Andy.

Dorongan diversifikasi pariwisata ini menjadi kunci dalam menjaga daya saing Labuan Bajo di tingkat global. Ketergantungan pada wisata bahari dinilai tidak cukup untuk menjawab tren wisatawan yang kini mencari pengalaman autentik dan berbasis budaya.

Penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan seni lokal diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisata di sektor non-bahari, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Jika konsisten dikembangkan, Labuan Bajo berpotensi bertransformasi dari destinasi berbasis alam menjadi destinasi terpadu yang menggabungkan keindahan alam, budaya, dan kreativitas lokal.**